Minggu, 18 Desember 2016

UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL

Hari ini hingga empat hari kedepan,  saya berada di The Sultan Hotel Jakarta, 18-21 Desember 2016 dalam  rangka mempersiapkan Kisi-kisi dan soal-soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), GTK mengadakan kegiatan penyusunan Kisi-Kisi  Soal  Ujian Sekolah  Berstandar  Nasional  yang  melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait  yakni  Balitbang, BSNP, Puspendik, Puskurbuk, Pakar  dari  berbagai  mata  pelajaran, Ditjen GTK, dan Ditjen Dikdasmen.

Arah kedepan,  dimana UN sudah tidak menentukan kelulusan maka penguatan Ujian Sekolah yang bermartabat, berkualitas dan kredibel menjadi sebuah keniscayaan mengingat di Sekolahlah masa depan bangsa ini akan ditentukan.

USBN yang digadang-gadang sebagai formulasi baru pengganti UN (meski bukan demikian) akan tetap dilanjutkan meskipun moratorium UN tidak jadi dilaksanakan.

Data hasil telaah soal ujian sekolah yang ada tergambar bahwa soal yang dibuat oleh guru-guru kita masih berada di level C2 dan C3 dan banyak pula ditemukan soal-soal yang ditulis tidak memenuhi kaidah penulisan butir soal.

Tetap semangat menjaga kualitas Ujian Sekolah paper/komputer based karena semua pelajaran itu penting!!!

Pertanyaan yang menarik adalah TIK termasuk yang akan di USBN-kan ?  Sudahkah siap siswanya di era TIK menjadi B-TIK, dimana siswa tidak memiliki kompetensi terstandarisasi yg cukup untuk diUJI karena diajarkan secara sporadis tidak diajarkan secara terstruktur di kurikulum 2013.

Akankah ini bagian akhir atau lembaran awal berakhirnya mimpi buruk tentang B-TIK...? :D

Implikasinya,  sudah akan berkurang dikotomi antara mata pelajaran UN dan Non-UN.  Sudah tidak akan ada lagi percepatan mapel Non-UN agar ditamatkan diakhir semester 5. Siswa akan dikejutkan dengan bentuk soal uraian yang diharapkan dapat memicu creatifity, critical thinking, colaboration dan communication.

Tentu PR sekolah selanjutnya adalah tidak hanya mengembalikan mapel-mapel Non-UN kehabitatnya,  akan tetapi mampu melatih guru-guru dalam membuat soal-soal yang baik, benar, HOTS serta HODS.

Kesimpulannya, ada UN maupun tidak ada UN,  ada USBN maupun tidak ada USBN soal yg dibuat guru harus benar-benar berkualitas dan dapat mengukur kompetensi peserta didik, sehingga pada akhirnya diharapkan proses pembelajaran pun akan lebih berkwalitas.
Reaksi: