Kamis, 21 April 2016

Benchmarking IDL 2016 - South Korea (SAVE FOR TIK)

Indonesia Digital Learning (IDL) My Teacher My Hero (MTMH) Award 2015 adalah salah satu program kerjasama PB PGRI dan PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) yang menghasilkan 45 guru terbaik yang untuk selanjutnya dilakukan training (bootcamp) selama 4 hari, kemudian menghasilkan serta terpilihlah 8 guru terbaik dari IDL MTMH 2015. Delapan orang guru terbaik tersebut mendapatkan penganugrahan sebagai Guru Inovatif pada perayaan puncak peringatan hari Guru / ulang tahun PGRI ke-70 di Gelora Bung Karno. Kedelapan orang guru inovatif tersebut memperoleh kesempatan untuk melakukan bencmarking / study banding pembelajaran berbasis TIK ke sekolah international di Korea Selatan dari tanggal 12 sampai dengan 16 April 2016.
Meskipun bukan pertama kali mendaratkan kaki di lapangan udara Incheon - Korea Selatan, namun dalam kunjungan study banding kali ini kami benar-benar berkesempatan mengetahui Korea Selatan secara lebih mendalam, khususnya dibidang pendidikan dan kebudayaan masyarakat Korea Selatan.
Dalam perjalanan berkeliling beberapa provinsi di Korea Selatan pemandangan pertama yang kami lihat adalah Cherry Blossom yang memang hanya dapat ditemui pasca musim dingin/salju sebagai salah satu daya tarik kunjungan wisata ke Korea Selatan, kemudian acap kali bus yang kami tumpangi masuk dan keluar terowongan-terowongan megah yang membelah serta menembus pegunungan kapur dan granit yang memang membentang di semenanjung Korea. Benarlah adanya Korea Selatan bukan hanya dikenal sebagai negara Ginseng yang maju dan modern, tapi juga negara dengan seribu terowongan.
Korea Selatan baru merdeka pada 15 Agustus 1948 serta diterpa konflik dan perang saudara beberapa waktu lamanya bahkan hingga sekarang. Tidak ada hasil minyak, gas bumi dan hasil alam yang melimpah untuk bisa dinikmati masyarakat Korea karena memang daerahnya pegunungan kapur yang untuk bisa membuat tomat dapat tumbuh saja diperlukan perjuangan dan usaha yang sulit. Keadaan semacam ini membuat masyarakat Korea memiliki karakter yang kuat dan tangguh, terlebih lagi adanya wajib militer terhadap warga Korea membuat rasa nasionalisme dan kebangsaannya begitu kuat dan membara.
Hampir-hampir sulit kami temukan semisal mobil-mobil buatan Eropa dan Jepang bertebaran di seantero jalan di kota Seoul, karena mereka sangat cinta sekali produk dalam negeri seperti Hyundai, KIA, Samsung dan beberapa merk mobil lainnya yang merupakan buatan dalam negeri. Begitu pula dengan produk-produk elektronik dan kosmetika semua merupakan hasil produksi dalam negeri Korea Selatan.
Sebelum melakukan kunjungan di dua sekolah yang telah diagendakan dalam bencmarking kali ini, saya mendapat kehormatan di kunjungi di penginapan oleh seorang sahabat warga lokal dimana sebelumnya kami pernah bertemu di Intel Corporation Headquarter, California dalam kegiatan Intel Educator Visionaries, beliau adalah Mr. Chankyu Park seorang guru sekolah dasar (SD) di Shinnamsung Elemetary School. Beliau menghadiahkan kami dua buah Hamster Robot untuk dipakai dan dipergunakan dalam proses pembelajaran Komputer Sains di sekolah, tidak hanya itu kami juga dijarkan cara mengoperasikan dan mendeliverednya ke peserta didik. Di sekolah ini, peserta didik tidak hanya diajarkan komputer sains seperti coding dan scratch namun mereka juga diajarkan aplikasinya langsung terhadap robot-robot mini. Hampir sulit terbayang kemampuan siswa SD di Korea yang di Indonesia baru di dapat di jenjang SMA/SMK, itupun tatkala TIK masih sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. 
 
Terbayang mengapa Korea Selatan yang merdekanya lebih muda dari Indoensia, perang saudara berkepanjangan namun mampu bangkit lebih cepat karena salah satunya disebabkan kebijakan pemerintahan mengenai Cyber 21 di awal tahun 70an, bahkan Cyber Education diluncurkan secara masif oleh Presiden Kim Daejung pada tahun 1999 yang menekankan pentingnya proyek-proye-education dalam pemanfaatan ICT dalam bidang pendidikan dan untuk menghasilkan guru-guru yang berkualitas yang memiliki latar belakang yang kuat dalam ICT yang merupakan tuntutan sistem ekonomi modern. 
Sempat kami bertanya dan berdiskusi cukup panjang mengenai kebijakan mengenai pelajaran komputer science (TIK) dengan kepala sekolah  dan guru di dua sekolah yang kami kunjungi yakni Kojan Elementary School dan Buwon Girls's Middle School termasuk juga Shinnamsung Elemetary School. Ketika kami tanya "Korea Selatan adalah negara maju khususnya dibidang science dan teknologi, bahkan peserta didik anda tampak sudah sangat mahir dengan penggunaan Internet, Tablet dan ICT. Lalu untuk apa lagi ada pelajaran Komputer Science diajarkan lagi kepada mereka, bahkan diajarkan mulai level pendidikan dasar (SD) ?", jawaban mereka adalah "komputer science / TIK bukan sekedar tools/alat untuk pembelajaran, komputer science mendidik dan menstrimulus kemampuan High Order Thinking Skills (HOTS) karena mereka diajarkan komputational thinking, design thinking, critical thinking dan kemampuan untuk mencipta/creation. Jadi tidak semata using technologi yang cenderung konsumtif".
        
Hal bertolak belakang dengan kebijakan pendidikan TIK di Indonesia yang saat ini malah menghapus mata pelajaran TIK yang sebelumnya merupakan mata pelajaran wajib menjadi Bimbingan TIK dan terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang dalam tatanan konsep, praktek dan implementasinya dilapangan masih harus dikaji bahkan ditinjau ulang. Semua guru-guru di beberapa sekolah yang kami kunjungi telah mengintegrasikan TIK kedalam proses pembelajaran mereka, namun hal tersebut tidak menghentikan Computer Science untuk tetap diajarkan sebagai mata pelajaran wajib untuk ketahanan dan kepentingan nasional negara mereka.
Jika karena konten mata pelajaran TIK di Indonesia yang out of date yang menjadi dasar dihapuskannya mata pelajaran TIK, maka semestinya akan lebih baik jika kontennya yang diperbaiki dan di upgrade, bukan dengan mengaborsinya. TIK lahir sebagai mata pelajaran dengan kajian akademis yang komprehensif dan mendalam, sementara penghapusannya tidak melalui kajian dan pertimbangan akademis yang matang.
Berbicara mengenai standar nasional pendidikan di negara Korea Selatan memang cukup tinggi, namun beberapa hal sebenarnya masih relatif sama dengan Indonesia. Misalnya saja untuk jumlah mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan, jumlahnya tidak berbeda jauh dengan yang ada di negara kita, bahkan jam sekolah mereka cenderung lebih lama dari jam pembelajaran di Indonesia. Korea Selatan lebih mementingkan proses pembelajaran yang berkualitas sehingga di jenjang pendidikan menengah kebawah tidak dikenal ujian kenikan tingkat dan ujian nasional seperti layaknya di negara kita Indonesia. Standar gurunya pun cukup tinggi sama halnya seperti dinegara kita harus melalui serangkaian seleksi ketat dan magang terlebih dahulu tentunya dengan tingkat kesejahteraan yang sangat baik.
Hal menarik lainnya masih berhubungan dengan TIK dimana terdapat WiFi disetiap sekolah untuk akses internet gratis, bahkan di publik area seperti halte, bus, taman dll terdapat free wifi dengan kecepatan tinggi yang konon katanya Korea Selatan adalah salah satu negara dengan kecepatan internet tertinggi di dunia. Namun demikian pemerintah Korea Selatan menerapkan kebijakan cukup ketat mengenai apa yang bisa diakses dan apa yang tidak bisa diakses oleh peserta didik. Peserta didik juga diperbolehkan membawa smarpone mereka untuk mendukung proses pembelajaran. Siswa sepertinya asyik dengan proses pembelajaran karena iklim proses pembelajaran, penilaian dan kompetisi yang dibangun sudah sedemikian nyaman, menyenangkan serta berbantuan TIK.
Selain Korea Selatan, Amerika Serikat merupakan salah satu negara maju lainnya yang mulai menyadari betapa bergunanya Computer Science bagi masa depan negaranya seperti yang pernah disampaikan sendiri oleh Presiden Obama bahwa Setiap orang harus belajar bagaimana melakukan "Coding". "Belajar keterampilan ini (coding/computer science) tidak hanya penting untuk masa depan Anda. Sangat penting untuk masa depan negara kita", kata Presiden dalam video yang di release oleh Code.Org, . "Jika kita ingin Amerika tetap berada di garis depan technologi, kita perlu orang Amerika muda seperti Anda untuk menguasai alat-alat dan teknologi yang akan mengubah cara kita melakukan apa saja."
Bagaimana dengan Pemerintah Indonesia ? Presiden Jokowi, sudah melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk menjajaki kerjasama dengan beberapa perusahan teknologi raksasa di dunia seperti Google, Microsoft, IBM, Cisco, Apple, Facebook dan perusahaan lainnya. Sebuah terobosan yang cukup monumental, namun harapannya harus menguntungkan kedua belah pihak. Tidak hanya jadi pengguna teknologi atau pasar tekhnologi akan tetapi harus ada transfer technologi dan salah satunya adalah memperkuat sisi SDM muda dan produktif Indonesia dengan membekali mereka dengan Computer Science (Pelajaran TIK) sejak usia dini seperti yang dilakukan di Amerika dan Korea Selatan.
Kita yakin, optimis dan masih memiliki harapan untuk Indonesia yang lebih baik sepanjang kepentingan Nasional diatas segalanya.

Reaksi: