Minggu, 18 Desember 2016

UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL

Hari ini hingga empat hari kedepan,  saya berada di The Sultan Hotel Jakarta, 18-21 Desember 2016 dalam  rangka mempersiapkan Kisi-kisi dan soal-soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), GTK mengadakan kegiatan penyusunan Kisi-Kisi  Soal  Ujian Sekolah  Berstandar  Nasional  yang  melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait  yakni  Balitbang, BSNP, Puspendik, Puskurbuk, Pakar  dari  berbagai  mata  pelajaran, Ditjen GTK, dan Ditjen Dikdasmen.

Arah kedepan,  dimana UN sudah tidak menentukan kelulusan maka penguatan Ujian Sekolah yang bermartabat, berkualitas dan kredibel menjadi sebuah keniscayaan mengingat di Sekolahlah masa depan bangsa ini akan ditentukan.

USBN yang digadang-gadang sebagai formulasi baru pengganti UN (meski bukan demikian) akan tetap dilanjutkan meskipun moratorium UN tidak jadi dilaksanakan.

Data hasil telaah soal ujian sekolah yang ada tergambar bahwa soal yang dibuat oleh guru-guru kita masih berada di level C2 dan C3 dan banyak pula ditemukan soal-soal yang ditulis tidak memenuhi kaidah penulisan butir soal.

Tetap semangat menjaga kualitas Ujian Sekolah paper/komputer based karena semua pelajaran itu penting!!!

Pertanyaan yang menarik adalah TIK termasuk yang akan di USBN-kan ?  Sudahkah siap siswanya di era TIK menjadi B-TIK, dimana siswa tidak memiliki kompetensi terstandarisasi yg cukup untuk diUJI karena diajarkan secara sporadis tidak diajarkan secara terstruktur di kurikulum 2013.

Akankah ini bagian akhir atau lembaran awal berakhirnya mimpi buruk tentang B-TIK...? :D

Implikasinya,  sudah akan berkurang dikotomi antara mata pelajaran UN dan Non-UN.  Sudah tidak akan ada lagi percepatan mapel Non-UN agar ditamatkan diakhir semester 5. Siswa akan dikejutkan dengan bentuk soal uraian yang diharapkan dapat memicu creatifity, critical thinking, colaboration dan communication.

Tentu PR sekolah selanjutnya adalah tidak hanya mengembalikan mapel-mapel Non-UN kehabitatnya,  akan tetapi mampu melatih guru-guru dalam membuat soal-soal yang baik, benar, HOTS serta HODS.

Kesimpulannya, ada UN maupun tidak ada UN,  ada USBN maupun tidak ada USBN soal yg dibuat guru harus benar-benar berkualitas dan dapat mengukur kompetensi peserta didik, sehingga pada akhirnya diharapkan proses pembelajaran pun akan lebih berkwalitas.

Minggu, 02 Oktober 2016

ALIH FUNGSI GURU TIK/KKPI DAN MAPEL LAINNYA? (Tanda Kiamat B-TIK)

Beberapa hari terakhir ini, sebagian besar bapak/ibu guru yang masuk dalam program guru pembelajar akan mendapatkan notifikasi seperti tampak pada gambar disamping ketika mebuka aplikasi "sim.gurupembelajar.id". Notifikasi tersebut berisi pemberitahuan tentang Pendaftaran Program Sertifikasi Guru dan Sertifikasi Keahlian Guru SMK/SMA (Alih Fungsi).
Adapun isi lengkap dari notifikasi tersebut adalah " .... Menindaklanjuti Inpres No. 9 tahun 2016, maka Dirjen GTK menyelenggarakan Pendaftaran Program Sertifikasi Guru dan Sertifikasi Keahlian Guru SMK/SMA (Alih Fungsi) atau resertifikasi prioritas bagi :

  1. Guru SMK yg mengajar mata pelajaran adaftif khususnya mapel IPA, IPS, Kewirausahaan dan KKPI
  2. Guru TIK SMA dan guru teridentifikasi berlebih antara lain guru PPKN, Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, Ekonomi, Bahasa Asing dan Antropologi

Ada beberapa hal menarik untuk dicermati sehubungan dengan notifikasi tersebut :
  1. Notifikasi tersebut lebih menyorot keberadaan dan eksistensi guru KKPI dan guru TIK yang mungkin sudah dianggap tidak ada di peta kurikulum oleh dirjen GTK.
  2. Jika mengacu pada kondisi sekarang jumlah guru TIK untuk melaksanakan permendikbud 68 & 45 masih jauh dari cukup. Masih dibutuhkan 3-4 kali lipat dari jumlah guru TIK (K13) yang masih tersisa sekarang dengan asumsi 1 orang guru TIK mengampu 150 siswa/peserta didik. Disatu sisi kekurangan disisi lain dianggap berlebihan bahkan cendrung tidak perlu (semoga yg bermazhab BTIK cepat sadar)
  3. Diawal tahun 2005/2006 saat kurikulum 2006 lahir dimana TIK saat itu masuk sebagai mata pelajaran wajib, kebijakan pemerintah saat itu mengizinkan semua guru mapel dapat mengampu mata pelajaran TIK/KKPI karena memang belum ada lulusan LPTK TIK dan kondisi darurat. Namun apa yg terjadi saat K13 lahir ? mereka semua hampir terdepak dari disiplin kompetensi baru mereka tersebut. Kini hal tersebut ditawarkan kembali kepada bapak/ibu guru. Apakah ada jaminan hal itu tidak terjadi lagi ? Apakah ada jaminan kebijakan tidak berubah ? Apakah ada jaminan regulasi akan menguntungkan mereka ? Silahkan bapak/ibu guru perhitungkan dengan matang
  4. So, bagi teman-teman setanah air, jangan terburu-buru mengambil sikap, terlebih disisa 2 tahun kepemimpinan nasional ini. 
  5. Hendaknya ada kajian mendalam dan konfrehensif jangan sampai merugikan guru, sehingga terkesan jadi kelinci percobaan kebijakan yang ada. 
  6. Pemerintah berupaya menggenjot SMK, namun kenyataannya penyumbang pengangguran terbesar berasal dari lulusan SMK (detik.com), jangan sampai guru-guru yang hijrah tersebut jadi pengangguran lagi disekolahnya terlebih di SMK mengenal Sistem On/Off untuk jurusan-jurusan tertentu. Disisi lain tuntutan Dapodik luar biasa tidak berfihak pada keberagaman yang ada di SMA/SMK. Sekali lagi pemerintah harus mengkaji benar-benar dari sisi siswa, guru, kurikulum dan sistem dapodik yang relatif statik yang cenderung tidak mendukung pengembangan di SMA/SMK.
Dan sebagai pertanyaan penutup dari tulisan saya kali ini adalah tanda-tanda kiamat B-TIK sudah didepan mata, masihkah anda menganggap B-TIK opsi terbaik ?

Sebagai bahan renungan (tulisan sebelumnya) :

Saat PP32 lahir sehingga TIK dihapuskan, kita katakan tolak PP32, TIK,/KKPI harga mati sebagai mapel, saat itu kita tidak mengatakan sudah realistis saja TIK sdh hilang sehingga ikuti sistem yg ada. Kita terus berjuang hingga lahir permen 68.

Saat Permen68 lahir, kita tetap katakan tolak permen68, TIK,/KKPI harga mati sebagai mapel, saat itu kita tidak mengatakan sudah realistis saja TIK sdh hilang sehingga ikuti sistem yg ada syukuri aja permen 68. Kita terus berjuang hingga lahir permen 45.

Saat Permen 45 lahir,  kita katakan tolak permen 45,  TIK,/KKPI harga mati sebagai mapel, saat itu kita tidak mengatakan sudah realistis saja TIK sdh hilang sehingga ikuti sistem yg ada syukuri permen 45. Kita terus berjuang hingga lahir TIK balik sebagai mapel.

Itulah yg namanya fokus terhadap fatsun kebijakan. Hanya oportunislah yg akan bernaung pada zona nyaman individu dan orang seperti ini biasanya tidak mengerti sejarah.

Jika dulu kita bersikap menerima PP32 maka kiamatlah saat itu guru tik/kkpi, begitulah pula sekarang, jika berhenti sampai di permen45 maka tinggal menunggu waktunya saja kiamat yg tertunda itu akan datang.

Menerima permen 68 dan 45 bukan berarti harus mensosialisasikan dgn kekeh. Terima dgn catatan artinya diterima namun tetap fokus pada perjuangan awal.  Jika tidak,  itulah yg namanya oportunis. Saat PP32 lahir ada oportunisnya,  saat permen68 lahir ada oportunisnya, saat permen45 lahir ada oportunisnya.... Namun yg masih berpegang pada fatsun politik kebijakan perjuangan masih sangat banyak dibanding para oportuniis...

O ya satu lagi,  nggak ada tuh kita singgung masalah sertifikasi..., Yg ngomongin sertifikasi ya diotaknya cuman ada duit doang.... Rusak dah tu otaknya...

1) mensoSIALisasikan btik tapi tdk melaksanakan atau 2) tidak ikut mensosialisasikan btik tapi melaksaakan atau 3) tidak ikut mensosialisasikan tapi melaksanakan dan terus berjuang tik menjadi mapel.

Diposisi ketiga itulah kami.

Jumat, 16 September 2016

E-Raport SMA 2016

Aplikasi e-raport jenjang SMA tahun 2016 telah dirilis untuk dapat digunakan secara gratis. Aplikasi ini menggunakan data prefil dari Dapodik 2016B dan hasil pengolahannya tersingkron ke Dapodik. Untuk saat ini eraport SMA baru dapat melayani secara maksimal untuk Kurikulum 2013 dengan Sistem Paket, sedangkan sistem SKS masih perlu penyesuaian lebih lanjut.

Aplikasi eraport ini direkomendasikan oleh direktorat PSMA dalam mempermudah pengelolaan nilai raport di sekolah khususnya pada jenjang SMA. Sedangkan untuk jenjang lainnya masih terus dikembangkan. Adapun beberapa catatan atau prasyarat agar aplikasi ini dapat berjalan maksimal sebagai berikut :

1. File installer terdiri dari 32 dan 64 bit dengan size/ukuran sekitar 25 MB
2. Disarankan menggunakan sistem Clien-Server (agar bpk/ibu guru bisa bekerja maksimal)
3. Pada PC/Laptop/Server yang digunakan telah terinstal Dapodikmen/Dapodik Ver. 2016B
4. Dapodik 2016B tersebut bukan hasil PATCHING (harus fresh installer)
5. Data pada Dapodik harus sudah terisi lengkap minimal sampai sub PEMBELAJARAN
6. Dapodik yang digunakan harus terisi data dengan menggunakan PREFILL terbaru 
7. Pada menu admin di Eraport terdapat tombol tombol Sinkron untuk melakukan proses sinkronisasi ke dapodik di PC untuk mengunduh data dapodik ke eraport. (eraport bekerja pada mode offline untuk sinkron ke data dapodik di server/PC lokal)
8. Untuk masuk ke admin gunakan username dan password admin
9. Ikuti dan selesaikan semua tahapan admin, guru, dan wali kelas.
10. Untuk user guru dan siswa lakukanlah proses generate
11. Untuk user wali kelas admin membuatkan sesuai data pada dapodik.

Versi 64 Bit http://drive.google.com/file/d/0Bxx_9zuh_ZHKQTZnNXVPRjJ0cDg/view?usp=drivesdk

Versi 32 Bit  https://drive.google.com/file/d/0Bxx_9zuh_ZHKQzljYkh5SC05Szg/view?usp=sharing

Link Terbaru : http://bit.ly/eraport2016

Selasa, 30 Agustus 2016

UJI PUBLIK KE-2 NASKAH AKADEMIK MAPEL TIK TERBARUKAN

Menindaklanjuti hasil Rekomendasi Tim TIK tentang Opsi Kebijakan Terhadap Kurikulum TIK Pada Pendidikan Dasar dan Menengah di Hotel Holiday Inn Express, Kemayoran, Jakarta yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 4 – 6 Agustus 2016 maka Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (AGTIFINDO) telah selesai melakukan Kajian Akademis Mata Pelajaran TIK sebagai tahap awal untuk dapat menjadi landasan sekaligus masukan bagi Balitbang dan Puskurbuk dalam mengembangkan Mata Pelajaran TIK Terbarukan.

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan telah mentahbiskan bahwa mata pelajaran TIK/KKPI telah dihapuskan dari struktur kurikulum nasional. Untuk mengantisipasi gejolak dan meredamkan serta menyalurkan guru TIK/KKPI yang telah ada maka dikeluarkanlah Permendikbud 68 Tahun 2014 dan Permendikbud 45 Tahun 2015 tentang Peran Guru TIK/KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013.

Dalam PP 74 tentang Guru hanya mengenal nomengklatur Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran dan Guru Bimbingan Konseling maka permendikbud 68 dan permendikbud 45 bisa dikatakan hanya sementara karena tidak dikenal nomenklatur Guru Bimbingan TIK. Permendikbud tersebut tidak bisa berjalan di hampir semua daerah karena tidak memiliki struktur kurikulum sebab bukan mata pelajaran dan sifatnya yang optional/pilihan kebijakan masing-masing sekolah.

Disisi lain, di banyak negara di dunia, computer science telah menjadi trend dan bahkan telah menjadi basic skill atau salah satu kemampuan dasar dalam persaingan di abad 21. Computer science tidak untuk menciptakan ahli-ahli programer akan tetapi untuk melatih peserta didik dalam berfikir komputasi.

Sudah saatnya TIK dimasukkan kembali sebagai mata pelajaran wajib dari jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK sebagai salah satu kemampuan dasar bagi peserta didik untuk Indonesia yang lebih baik. Kemandirian di bidang ekonomi, teknologi dan informasi serta demi ketahanan dan keamanan nasional merupakan pertimbangan utamanya.

Salah satu langkah nyata maka dilakukanlah kajian akademis dan menghasilkan Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran TIK Terbarukan. Hasil kajian ini memberikan gambaran tentang muatan naskah standar isi dan kurikulum sebagai masukan bagi perumus kebijakan pendidikan lebih lanjut.

AGTIFINDO menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para pimpinan di DPP AGTIFINDO serta anggota dan para simpatisan,  pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Kemdikbud, guru TIK, praktisi pendidikan, serta Partner kami KOGTIK, GEG Leader Community serta Intel Educator Visionaries. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari semua pihak, naskah akademik ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Naskah Akademik Mata Pelajaran TIK yang terlampir berikut ini, sekaligus sebagai bentuk Uji Publik terhadap Naskah Akademik tersebut. Kami membuka peluang masukan baik tertulis maupun diskusi lebih dalam mengenai Naskah Akademik tersebut termasuk Kompetensi Dasar mata pelajaran TIK Terbarukan.

Demikian Naskah Akademik ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kearah peningkatan mutu pendidikan dan kemandirian serta ketahanan nasional dibidang ekonomi, teknologi dan informasi kami ucapkan terima kasih.

http://bit.ly/UJIPUBLIK_KE2_NASKAHTIK

DPP AGTIFINDO

Kamis, 28 Juli 2016

PROBLEM MAPEL TIK, MUHADJIR EFFENDI GENERASI MENDIKBUD KE-3 ?

Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Anies Baswedan atas segala usaha dan upayanya dalam memajukan pendidikan di Indonesia dan selamat berkarya di bidang yang lainnya. Serta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Prof. DR. Muhadjir Effendi selamat bertugas dan semoga dapat membawa perubahan dalam dunia pendidikan kearah yang lebih baik serta mampu menyelesaikan PR-PR dunia pendidikan sebelumnya yang masih belum terselesaikan.

Muhadjir Effendy Muhadjir Effendy adalah seorang tokoh pendidikan, yang oleh publik lebih dikenal sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan guru besar bidang sosiologi pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Di samping itu, publik juga mengetahui Muhadjir sebagai seorang pengamat militer dan salah seorang wakil ketua di jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu PR terbesar bagi Prof. Muhadjir dalam kurun waktu masa bhakti 3 tahun kedepan adalah menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan mata pelajaran TIK demi Ketahanan Nasional dan Kemandirian Bangsa. Sudah saatnya pemerintah mengembalikan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran tentunya dengan segala koreksi yang harus dilakukan dalam konten dan muatan mata pelajarannya. Kini Indonesia telah menandatangani kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan diberlakukan 1 Januari 2016 yang lalu. Indonesia harus memiliki daya saing di segala bidang, termasuk bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Indonesia harus mampu menjadi negara Penghasil Teknologi bukan negara Pemakai Teknologi (konsumen teknologi) bahkan yang lebih “mengerikan” menjadi tujuan atau sasaran pasar teknologi dari negara-negara di ASEAN atau ASIA bahkan Amerika dan Dunia.

Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, Korea, India, Singapura, Thailand, Philipine dan negara-negara lainnya
begitu peduli dengan kemandirian dibidang Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Sains. Mereka telah mengadaptasi Computer Sains sebagi bagian dari STEAM-CS kedalam struktur kurikulum pendidikan mereka dimulai dari jenjang pendidikan dasar (SD). Bagaimana dengan Indonesia ? Di negara kita, mata pelajaran TIK/KKPI turun derajatnya menjadi bentuk Bimbingan/Layanan yang sifatnya OPTIONAL untuk dilaksanakan. Lantas bagaimana bisa mengadaptasi Computer Sains ?

Saat ini Computer Science (TIK terbarukan) sebagai mata pelajaran khusus memang telah menjadi Trend Pendidkan Global di hampir seluruh negara maju di dunia. Kita mendorong pemerintah mengadaptasi Computer Science bukan karena telah menjadi Trend bukan pula untuk menciptakan para programmer handal, akan tapi kita harus SEGERA mengadaptasi Computer Science untuk KEPENTINGAN NASIONAL, kepentingan bangsa dan negara kita untuk bisa menghasilkan SDM yang unggul dan tangguh dalam menghadapi persaingan global dimana Computer Science merupakan salah satu basic skill baru untuk bisa bersaing di era global.

Presiden Amerika, Obama sampai berujar di blog resmi Gedung Putih (Whitehouse) (https://www.whitehouse.gov/blog/2016/01/30/computer-science-all) "Computer Science for All is the President’s bold new initiative to empower all American students from kindergarten through high school to learn computer science and be equipped with the computational thinking skills they need to be creators in the digital economy, not just consumers, and to be active citizens in our technology-driven world. Our economy is rapidly shifting, and both educators and business leaders are increasingly recognizing that computer science (CS) is a “new basic” skill necessary for economic opportunity and social mobility." Obama juga berujar "In the coming years, we should build on that progress, by … offering every student the hands-on computer science and math classes that make them job-ready on day one."

Kita guru-guru TIK dan seluruh anak bangsa berharap besar Prof. Muhadjir bisa lebih bijaksana dan revolusioner dalam menyikapi permasalahan ini. Dan dapat mewujudkan keinginan pemerintahan Jokowi-JK agar Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia-Pasifik serta menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia melalui pendidikan dan pembelajaran TIK terbarukan (TIK sebagai Mata Pelajaran).

Kurikulum 2013 sudah memasuki tahun ke-empat, yang artinya sudah ada satu jenjang generasi muda kita kehilangan "basic skill", bahkan saat ini kita benar-benar memasuki masa-masa Darurat TIK. Kita berharap Prof. Muhadjir dapat mengembalikan dan melanjutkan TIK sebagai mata pelajaran seperti yang pernah dirancang oleh kolega beliau yakni Prof. Malik Fadjar dan Prof. Bambang Sudibyo selaku Mendikbud dimana TIK dilahirkan sekaligus kolega beliau di PP Muhammadiyah. Aamiin.

Sabtu, 16 Juli 2016

Bagi sekolah atau perguruan tinggi yang ingin migrasi ke Google Apps for Education (GAFE) silahkan anda menyimak video berikut (1-4) secara berurutan dan mengikuti tahapan dari video berikut ini. Tema kali ini adalah Classroom Infection :  The Power of Google Forms in Classroom (Survey, Penilaian, Quiz, MobileApps, Learning Material, dan lain sebagainya)

1. Introduction GAFE = https://www.youtube.com/watch?v=JvXu-OSoEdQ
2. Registrasi GAFE = https://www.youtube.com/watch?v=_jJ6ne6varE
3. Verifikaction GAFE = https://www.youtube.com/watch?v=LRIrjtHSILk
4. Full GAFE / Gone Google = https://youtu.be/1oVc4q6cPcU
5. Hangout on Air GAFE 1 = https://youtu.be/VobD-3Oq4Dg
6. Hangout on Air GAFE 2 = https://youtu.be/S1uf1P3DmhM
#GEGKaltim #GEGIndonesia #GoogleApps #Education #GoneGoogle #GoogleIndonesia




Jumat, 15 Juli 2016

MEMAHAMKAN YANG MERASA FAHAM PERMEN 68 & 45 ?

Saya kembali tergelitik untuk menuliskan kembali pembahasan mengenai implikasi Permen 68 tahun 2014 dan Permen 45 tahun 2015 mengingat konon katanya masih banyak guru-guru TIK/KKPI yang belum memahami permen-permen tersebut sehingga perlu disosialisasikan kembali,  hal tersebut dikatakan oleh para pembuat permen tersebut termasuk para "pendesiminasinya". Siapakah yang faham ? dan Siapakah yang perlu difahamkan ? Jangan-jangan para instruktur Bimbingan TIK tersebutlah yang harus difahamkan ? Yakinlah guru TIK/KKPI itu semua sudah sarjana dan pada pinter-pinter jika hanya untuk memahami makna dan tujuan lahirnya permen tersebut.

Pertama; Sejak diterbitkannya PP 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai Perubahan atas PP 19 Tahun 2005 tentang SNP maka di bumi Indoensia tidak ada lagi mengenal nomengklatur Mata Pelajaraan TIK/KKPI, artinya mata pelajaran tersebut telah dihapuskan. Sehingga jika ada yang mengatakan Mata Pelajaran TIK di SMA diganti Bimbingan TIK atau Mata Pelajaran KKPI di SMK diganti dengan Simulasi Digital adalah sebuah kesalahan besar.

Kedua ; Untuk menyikapi implikasi PP 32 Tahun 2013 maka terbitlah Permen 68 yang sifatnya sementara, mengapa sementara karena semangat permen ini hanya untuk memberikan peran sementara terhadap guru TIK / KKPI sesuai dengan judul permen yakni "Peran Guru TIK/KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013" karena Mata Pelajarannya dihapuskan. Peran Guru TIK di SMA menjadi Guru Bimbingan TIK dengan Tugas membimbing dan memfasilitasi Siswa, Guru, dan Tenaga Kependidikan (TU) begitupula Peran Guru KKPI menjadi Guru Bimbingan TIK dengan Tugas membimbing dan memfasilitasi Siswa, Guru, dan Tenaga Kependidikan (TU). 

Ketiga ; Peran guru TIK/KKPI dalam kurikulum 2013 tersebut tidak berjalan dengan baik karena dibuat tidak terencana dengan baik karena tidak melibatkan organisasi profesi TIK/KKPI yang ada, tidak melibatkan para akademisi dan tidak dilakukan dengan kajian yang komfrehensif dan mendalam. Disisi lain Peran Guru TIK / KKPI yang baru dalam permen tersebut tidak sesuai dengan UU Guru dan Dosen serta PP 74 tentang Guru dimana hanya dikenal Tiga jenis Guru yakni (1)Guru Kelas, (2)Guru Mata Pelajaran dan (3)Guru Bimbingan Konseling. Permasalahan berikutnya adalah bahwa Objek pembelajaran seorang guru adalah Peserta Didik (Siswa), bukan Guru dan bukan TU. Guru TIK/KKPI dan guru mata pelajaran lainnya dapat diminta membimbing / memfasilitasi Guru / Tenaga Kependidikan dalam wadah workshop/diklat atau sejenisnya.

Keempat : Ada pula yang mengatakan bahwa Permen 45 adalah Pengganti Permen 68 ! Dan orang yang mengatakan seperti itupun harus belajar hukum lagi dengan teman-teman balitbang AGTIFINDO tidak perlu belajar ke Ahli Hukum. Permen 45 adalah Permen Perubahan atas Permen 68 dimana yang berubah hanya sebagian pasal atau ayat yang sudah tidak sesuai. Sehingga Permen 68 juga masih berlaku. Sama halnya PP 32 Tidak "MENGHAPUS" PP 19, akan tetapi PP 32 hanya menghapus atau merubah sebagian dari pasal/ayat yang sudah tidak sesuai. Jadi yang beragumen seperti itu harap membaca dan belajar lagi.

Kelima ; Bimbingan yang dimaksud pada Permen 68 dan Permen 45 sifatnya OPTIONAL, artinya sekolah dapat memilih (1)Bimbingan Klasikal, memilih (2)Bimbingan Klasikal dan sekaligus Individual atau sekolah hanya memilih (3)Bimbingan Individual murni. (jika para desiminator dan eksekutor permen 68 dan 45 saja tidak memahami permen yang dibuatnya dan yang akan disosialisasikannya bagaimana mungkin bisa memahamkan guru-guru TIK/KKPI lainnya)

Keenam ; Ketika sekolah memilih OPSI ketiga yakni Individual Murni (dan ini banyak dipilih oleh sekolah yang ingin mengurangi beban jam TM dan mengurangi pengeluaran gaji guru), maka praktis semua program yang disusun akan berantakan. Guru persis akan seperti Dokter yang menunggui orang untuk berobat sementara orang tersebut merasa tidak pernah "merasa" sakit. Tulisan dan analisis mengenai OPTIONAL ini pernah saya tulis di link http://fathur.agtifindo.or.id/2016/01/analisis-keracunan-bimbingan-tik-k13.html

Ketujuh ; Andai dipilih klasikal sekalipun akan terbentur alokasi waktu / kapan dilakukan jam tatap mukanya ? Karena tidak ada didalam struktur kurikulum tentu akan dilakukan diluar jam pelajaran sekolah. Tentu ini tidak efektif dan akan mengeluarkan biaya ekstra bagi sekolah. Untuk menganalisis kebutuhan siswa saja, terlebih siswa baru tentu akan perlu waktu 1-2 kali pertemuan, lalu kapankan pembelajarannya ? dan yang lebih sulit lagi adalah kapan evaluasi/penilaiannya ?

Kedelapan ; Ada yang berupaya menyusun silabus untuk Bimbingan TIK dan hal inipun tampak aneh karena bagaimana mungkin bisa diimplementasikan jika Opsi individual yang dipilih, Andai Klasikalpun opsinya, apa mungkin bisa tercapai dalam waktu 5 kali pertemuan ?  Apalagi jika ingin mencapai target untuk menciptakan bibit-bibit unggul Olimpiade Sains bidang KOmputer ?

Kesembilan ; Banyak yang mengatakan bahwa Bimbingan TIK sebenarnya sangat baik terlebih menurut mereka yang bermazhab BIM-TIK Murni. Konsep Bimbingan TIK yang ada di Permen 68 dan Permen 45 merupakan tugas dan beban berat bagi guru TIK yang bukan tugas dan kewajibannya. Tugas membimbing dan memfasilitasi peserta GURU dalam pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran serta membimbing dan memfasilitasi TU/Tenaga Kependidikan dalam pengadministrasian kegiatan sekolah yang berbasis TIK adalah Tugasnya Dirjen GTK yang dibebankan ke Guru TIK/KKPI. Celakanya lagi pembebanan tersebut tidak diikuti oleh penghargaan terhadap Guru-Guru tersebut karena tidak diakui Jam nya didalam permen 68 dan 45. Mestinya LPTK harus mencetak Guru-Guru Mata Pelajaran yang telah terampil menggunakan TIK dalam proses pembelajaran sehingga beban tersebut tidak tertumpu pada Guru TIK/KKPI. Konsep Bimbingan TIK dan Integratifnya TIK kedalam semua mata pelajaran yang ada di luar Indoenesia sangat berbeda dengan konsep permen 45 dan 68. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan AGTIFINDO konsep tersebut memang ada dibeberapa negara, namun mereka disamping meng-Integratifkan TIK kesemua mata pelajaran juga mengajarkan TIK (Komputer Sains) sebagai sebuah disiplin ilmu pengetahuan.

Kesepuluh ; Akhirnya Bimbingan TIK (sesuai permen 68 dan 45) tidak layak lagi dilaksanakan apalagi di sosialisasikan, karena hanya akan membuang waktu, tenaga dan biaya. Akan lebih baik dan bermanfaat jika waktu, tenaga dan biaya tersebut dialihkan untuk mempersiapkan lahirnya Mata Pelajaran Komputer Sains untuk masa depan generasi bangsa serta ketahanan dan kedaulatan nasional di bidang TIK. Janganlah mengulang kesalahan atau menutupi kesalahan dengan membuat kesalahan yang baru lagi.

Bergabunglah dengan AGTIFINDO, tidak ada kata terlambat... karena tidak ada hukumnya bagi yang melakukan kesalahan karena dia tidak mengetahui jika itu salah.

To be continued....

BUKU PANDUAN MODA DARING PESERTA GURU PEMBELAJAR

Saat ini hampir sebagian besar rekan-rekan guru sudah mengetahui bahkan memegang Raport Hasil UKG-nya masing-maasing yang telah dilaksanakan tahun 2015 yang lalu. Jika anda melihat hasil raport yang terdapat di portal "gurupembelajar.id" dengan hasil raport yang diberikan oleh dinas pendidikan akan terdapat sedikit perbedaan karena raport pada portal guru pembelajar merupakan rerata sedangkan yang diberikan oleh dinas pendidikan lebih detailed/lengkap. Sehingga jangan terkejut ketika anda melihat raport di portal hanya 1 modul merah, sedangkan ketika melihat raport lengkap dari dinas terdapat beberapa komputensi merah disetiap modul.

Memang ada beberapa hal yang masih menjadi tanya besar dikalangan guru-guru mengenai metode dan pola konversi nilai UKG tahun 2015 yang jika dibandingkan antara 1 daerah dengan daerah lainnya tampak sedikit berbeda, bahkan ada yang tidak dilakukan konversi ? Entahlah, hanya para pengambil kebijakanlah yang punya kompetensi untuk menjawab hal tersebut.

Saat ini kita tidak akan membahas hal tersebut, karena saya akan berbagi mengenai Buku Panduan bagi Peserta untuk Pembelajaran Daring. Buku Manual bagi Peserta ini dimaksudkan untuk mendukung “Guru Pembelajar Moda Daring” guna meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di bidangnya. Mungkin banyak dari anda bertanya-tanya, apakah yang harus dilakukan pasca anda mengetahui dan menerima hasil raport UKG 2015. Jawabannya adalah membaca buku panduan, dan salah satunya adalah buku panduan moda daring ini dimana kemungkinan besar anda akan ikut dalam kelas yang dikelola secara daring.

Guru Pembelajar Moda daring ini terdiri dari 3 (tiga) model yaitu GP Moda Daring Penuh-Model 1, GP Moda Daring Penuh-Model 2, dan GP Moda Daring Kombinasi. GP Moda Daring Penuh-Model 1 hanya melibatkan pengampu dan guru sebagai peserta. Selama proses pembelajaran, peserta dibimbing dan difasilitasi secara daring oleh pengampu. GP Moda Daring Penuh-Model 2 melibatkan pengampu, mentor, dan peserta. GP moda daring model ini menggabungkan interaksi antara peserta dengan mentor dan atau pengampu, yang hanya dilakukan secara daring. Sedangkan pada moda kombinasi ini, peserta melakukan interaksi belajar secara daring dan tatap muka. Interaksi belajar secara daring dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi informasi dan pembelajaran yang telah disiapkan secara elektronik, dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, sedangkan interaksi tatap muka dilaksanakan bersamaan dengan peserta GP lainnya di pusat belajar (PB) yang telah ditetapkan sesuai dengan SK Penetapan KKG dan difasilitasi oleh seorang mentor.

Buku manual ini memberikan gambaran rinci tentang teknis penggunaan moda untuk Guru Pembelajar (GP) dengan menggunakan moda daring (dalam jaringan). Buku manual GP moda daring ini disusun sebagai pegangan bagi peserta, mentor, dan pengampu dalam melaksanakan dan menjamin serta meningkatkan mutu program GP moda daring. Buku manual ini memuat penjelasan secara detail tentang pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam GP moda daring sesuai dengan petunjuk
pelaksanaan GP secara umum.

Adapun link Buku Panduan Moda Daring Bagi Peserta (Klik Disini)

NAPAKTILAS 2 TAHUN AGTIFINDO.ORG ! (4 Juli 2014 - 4 Juli 2016)

Dua tahun yang lalu, beberapa hari pasca ditandatangani dan terbitnya Permen 68 terbentuklah agtifindo.org sebagai bentuk PROTES tidak amanahnya AGTIKKNAS dalam mengemban amanah Rakernas AGTIKKNAS di Wisma Handayani 26-27 Mei 2014 (http://agtifindo.org/content/sejarah)

Kini dua tahun sudah berlalu, masih banyak PR kita yang belum terlaksana, masih banyak impian kita yang belum terwujud hingga menjelang akhir masa jabatan ini, kami ucapkan terimakasih kepada para pengurus, anggota dan simpatisan agtifindo atas dedikasinya selama ini, curah keringatnya, sumbang fikirannya, usaha, dana dan do'anya... hanya Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa yang dapat membalas jasa-jasa anda semua. 

Sepertinya saat ini, Indonesia perlu figur-figur seperti Hadi Partovi yang dapat meyakinkan Presiden Barack Obama dengan Visinya bahwa setiap siswa di setiap sekolah harus memiliki kesempatan untuk belajar Computer Science (Ilmu komputer/TIK Terbarukan). Dia percaya Computer Science (Ilmu komputer/TIK Terbarukan) harus menjadi bagian dari kurikulum inti, di samping pelajaran lain seperti biologi, kimia atau aljabar. #ISTE2016  

Presiden Obama berujar di blog resmi Gedung Putih (Whitehouse) (https://www.whitehouse.gov/blog/2016/01/30/computer-science-all) "Computer Science for All is the President’s bold new initiative to empower all American students from kindergarten through high school to learn computer science and be equipped with the computational thinking skills they need to be creators in the digital economy, not just consumers, and to be active citizens in our technology-driven world. Our economy is rapidly shifting, and both educators and business leaders are increasingly recognizing that computer science (CS) is a “new basic” skill necessary for economic opportunity and social mobility." Obama juga berujar "In the coming years, we should build on that progress, by … offering every student the hands-on computer science and math classes that make them job-ready on day one." 

Sosok Hadi Partovi yang bisa meyakinkan Obama tersebut sebenarnya ada dalam diri Srikandi agtifindo Siti Khodijah Dewi Utari, ada dalam diri Saudaraku Alesha Asel, Oman Abdurrohman, Jojo Branded, Bang Choi, Duta Irian, Catur Yoga Meiningdias, Mas Yoedi, Syaripudin, FX. Eko Budi Kristanto, Slamet Supriyanto, Harly Umboh, Rahmad L, Tommy Jo dan ada didalam diri kerabat kami Onno W. Purbo, Indra Charismiadji, Budi Prasetya, Wijaya Kusumah, Tri Budi Harjo, Bambang Susetyantoyes, Anton Wijaya, Agus Book, Nilam Rahmawan, Toto Hutomo, Yohan Adi S , Sukari Darno, Budi Oeding, Didik Amoe, Cak Ali Mas Tamam, Suyudi Suhartono, Anim Hadi Susanto, Andri Pradhana serta jutaan pendekar TIK lainnya yang tidak sempat saya sebutkan satu-persatu.... 

ANDA semua adalah Hadi Partovinya Indonesia yang kami yakin dapat meyakinkan Pimpinan Republik ini akan masa depan generasi Indonesia terpapar TIK Terbarukan (Computer Science), masa depan keamanan dan ketahanan nasional Indonesia dan masa depan Bangsa dan Negara Indonesia .... Kita harus segera keluar dari label 'Negara KONSUMEN TIK terbesar di dunia...' ! TIK & KKPI Terbarukan merupakan pilihan terbaik bagi kita, saat ini dan untuk bangsa serta negara ini ! Kita mulai dari sekarang, karena generasi ini tidak bisa menunggu kebijakan yang berpihak pada masa depan mereka.

#savetik #save4tik #IntelVisionaries #ISTE2016 #agtifindo #kogtik #computerscience #TIK #Kurikulum2013 #GuruPembelajar

Rabu, 13 Juli 2016

Teacher Apps - Oleh-oleh dari Denver-USA

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi mengenai kegiatan Intel Education Visioneries Annual Event 2016 pada tanggal 23 - 26 Juni 2016 dan International Society for Technology in Education (ISTE.ORG) yang berlangsung pada 26-29 Juni 2016 dan kedua event tersebut berlangsung di kota Denver, Colorado, Amerika Serikat. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi USA atas undangan dan pembiayaan dari Intel Education sebagai bagian dari member Intel Education Visionaries program Thanks Intel Education (Intel Co.), Elizabeth dan Intel Indonesia.

Kali kedua saya berangkat ke Amerika ini begitu special karena saya kembali dipercaya untuk ikut andil dan terlibat dalam dua kegiatan besar dunia yakni Intel Education Visionaries dan ISTE, dan kegiatan ini semakin special karena tahun ini pengajuan Visa saya di kedubes Amerika di Jakarta disetujui untuk masa berlaku 5 tahun (Visa sebelumnya hanya 1 bulan), selanjutnya yang membuat semakin special tahun ini meskipun masih tetap sendiri mewakili Indonesia namun dalam perjalanan transit penerbangan dari Narita-Tokyo menuju Denver-Colorado saya ditemani Visionaries 2015 dari Asia yakni Mr.Chankyu Park (Korea Selatan), Supharat N. (Thailand) dan Kaori Maeda (Jepang) sehingga penerbangan selama lebih kurang 11 jam tersebut serasa menyenangkan. Dan super specialnya adalah dapat merasakan Puasa Ramadhan di Amerika yang siangnya begitu panjang dimana cahaya matahari masih bisa terlihat pukul 9 malam waktu setempat dan sahurpun harus lebih awal pada pukul 2.30 karena pukul 5 pagi cahaya matahari juga sudah mulai menerangi kamarku di Westin Denver Hotel yang juga memiliki view yang sangat special dan konon katanya hanya 2 kamar yang memiliki view seperti itu dimana kita bisa melihat downtown, sunset, denver tower, city, sweemingpool, kebetulan receptionisnya dari Indoensia, thanks for Sweet Roomnya Miss Muthia.

Nah tentu teman-teman sudah tidak sabar menunggu oleh-oleh yang akan saya bagi bukan ? Pada postingan kali ini saya ingin berbagi mengenai beberapa aplikasi yang paling disukai oleh para guru-guru (Intel Visionaries) dari berbagai belahan dunia yang mereka gunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Beberapa aplikasi tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi teman-teman guru di Indonesia namun tidak ada salahnya saya bagikan disini karena tinjauan, sudut pandang penggunaan dan pemanfaatan aplikasi-aplikasi tersebut bisa saja berbeda dengan yang selama ini bapak/ibu guru gunakan di Indoensia.

Selamat menyimak dan mempelajarinya yah, maaf belum sempat dialih bahasakan :)

Jumat, 10 Juni 2016

APAKAH HUBUNGAN GURU PEMBELAJAR DENGAN UKG ?

Mungkin istilah Guru Pembelajar masih terasa asing dipendengaran kita dan mungkin juga sebagian kita masih bertanya-tanya apa itu Guru Pembelajar ? Berikut kami coba berbagi mengenai program guru pembelajar yang saat ini sedang marak menjadi bahan pembicaraan di kalangan pendidik.
Guru Pembelajar merupakan istilah baru sebuah kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dengan paradigma baru. Guru pembelajar juga merupakan istilah lain dari kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang pada intinya upaya untuk meningkatkan kompetensi seorang guru dengan dasar kajian terori belajar Sosial-Konstruktivisme diman si pembelajar membangun sendiri pengetahuannya bersama dengan jejaring disekitarnya.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam sambutan pada Upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2015 mengajak seluruh guru untuk menjadi Guru Pembelajar, guru yang selalu hadir sebagai pendidik dan pemimpin bagi peserta didiknya, guru yang hadir mengirimkan pesan harapan, guru yang makin menjadi contoh tentang ketangguhan, optimisme, dan keceriaan. Guru merupakan seorang pembelajar yang secara terus menerus belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya.
Guru pembelajar adalah guru yang ideal yang terus belajar dan mengembangkan (upgrade) diri di setiap saat dan di manapun. Guru terus belajar dan mengembangkan diri bukan untuk pemerintah atau kepala sekolah, tapi memang sejatinya setiap pendidik atau guru adalah pembelajar. Hanya dari guru yang terus belajar dan berkarya akan muncul generasi pembelajar sepanjang hayat yang terus menerus berkontribusi pada masyarakat dan lingkungannya. Guru pembelajar adalah guru yang senantiasa terus belajar selama dia mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Oleh karena itu, ketika seorang guru memutuskan untuk berhenti atau tidak mau belajar maka pada saat itu dia berhenti menjadi guru atau pendidik.
Ada beberapa alasan mengapa seorang guru harus terus belajar selama dia berprofesi sebagai pendidik, sebagai berikut.
  1. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. 
  2. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menuntut guru untuk harus belajar beradaptasi dengan hal-hal baru yang berlaku saat ini. Dalam kondisi ini, seorang guru dituntut untuk bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang baru. Adapun kemampuan tersebut bisa diperoleh melalui pelatihan, seminar maupun melalui studi kepustakaan.
  3. Karakter peserta didik yang senantiasa berbeda dari generasi ke generasi menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru. Metode pembelajaran yang digunakan pada peserta didik generasi terdahulu akan sulit diterapkan pada peserta didik generasi sekarang. Oleh karena itu, cara ataupun metode pembelajaran yang digunakan guru harus disesuaikan dengan kondisi peserta didik saat ini.

Berdasarkan alasan tersebut di atas, guru pembelajar harus terus belajar, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan dapat menginspirasi peserta didik menjadi subjek pembelajar mandiri yang bertanggungjawab, kreatif, dan inovatif.
Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dirancang berdasarkan Standar Kompetensi Guru (SKG) yang mengacu pada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Permendiknas Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, dan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. 
Berdasarkan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dalam SKG dikembangkan peta kompetensi guru yang dibagi menjadi 10 kelompok kompetensi. Selanjutnya, dari 10 kelompok kompetensi dikembangkan kisi-kisi soal UKG, dan untuk masing-masing kelompok kompetensi dikembangkan juga modul peningkatan kompetensi guru pembelajar. 
Hasil UKG menjadi acuan dalam penilaian diri (self assessment) bagi guru tentang kompetensinya sehingga dapat menetapkan modul peningkatan kompetensi guru pembelajar yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensinya, dan menjadi acuan bagi penyelenggara Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar untuk melakukan analisis kebutuhan.

Tahun 2015 yang lalu kita selaku pendidik telah melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) dan haasilnya menjadi dasar untuk pemetaan kompetensi guru. Berdasarkan hasil UKG tahun 2015 tersebut, kini guru telah memiliki 'Raport' sama halnya peserta didiknya. Dalam raport tersebut tergambar peta kompetensi yang telah mencapai Kriteria Capaian Minimal (KCM) dimana ketika sebuah kompetensi tidak mencapai kriteria minimal akan berwarna Merah dan yang telah mencapai akan berwarna Hitam. Nah, kompetensi yang berwarna merah tersebut akan masuk dalam program Guru Pembelajar (GP).
Selanjutnya mungkin anda akan bertanya-tanya berapakah nilai raport saya ? untuk mengetahui hal tersebut anda dapat menghubungi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota masing-masing karena data rekapitulasi hasil UKG tahun 2015 telah diserahkan ke Dinas Pendidikan beberapa waktu lalu. Mengapa tidak dipublikasikan di website ? hal tersebut semata-mata menjaga marwah seorang guru tatkala nilai raport mereka banyak nilai merahnya atau berada dibawah nilai KCM/KKM dan bahkan nilainya berada dibawah rata-rata muridnya sendiri. Tentu sungguh ironis ketika siswa ditarget lulus dengan nilai KKM 5.5 dan siswanya mendapat 8 sedangkan gurunya dengan KCM 5.5 namun hanya mendapat lebih sedikit diatas KCM atau bahkan mungkin dibawah KCM 5.5 tersebut.
Memang banyak faktor yang membuat nilai bapak ibu guru tidak maksimal diantaranya mungkin tidak terbiasa dengan model UKG Online atau mungkin karena tingkat kesulitan soal yang tinggi, validitas soal atau memang karena terbiasa hanya mengajar di sebuah tingkat dalam sebuah jenjang selama bertahun-tahun lamanya. Misal guru Fisika yang hanya mengajar di kelas X di jenjang SMA selama 5 tahun berturut-turut tentu sedikit banyak akan berbeda tingkat kompetensinya dengan guru Fisika yang mengajar di berbagai tingkat mulai kelas X, XI hingga XII di jenjang SMA selama 5 tahun. 
Fenomena tersebut terjadi dihampir semua mata pelajaran tidak terkecuali mata pelajaran TIK. dan semakin memprihatinkan bagi kompetensi guru-guru TIK dimasa mendatang karena guru yang mengajar hanya disebuah tingkat (kelas X saja) dan disebuah jenjang secara rutin akan berdampak terhadap kompetensi mereka, apalagi bagi Guru TIK di kurikulum 2013 yang tidak lagi mengajar, pun seandainya ada pembelajaran klasikal hanya maksimum 5 kali dalam 1 semester, bahkan ada beberapa sekolah yang menetapkan untuk memilih HANYA bentuk Bimbingan Individual untuk TIK bagi peserta didiknya. 
Mengapa guru itu lebih Pintar dari muridnya ? jawabannya sangat sederhana yakni guru belajar lebih awal dari muridnya dan guru selalu mengajarkan hal yang sama di tingkat yang berbeda. Maka dari itu cara terbaik Belajar adalah dengan Mengajarkannya di kelas, dan Bimbingan TIK merupakan OPSI terburuk bagi seorang guru TIK tatkala mereka dituntut untuk mampu meningkatkan/mempertahankan kemampuan kompetensinya. Sekali lagi jika karena konten Mapel TIK yang buruk dan out-of-date maka bukan dengan memberangusnya akan tetapi konten materinyalah yang harus ditingkatkan dan diupgrade kearah "Computer Science / Komputer Sains" yang kini sedang menjadi topik hangat di dunia maju dengan program STEAM + CS.
Kembali kepada Program Guru Pembelajar, Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dilakukan melalui tiga moda, yaitu Moda Tatap Muka, Moda Daring, dan Moda Daring Kombinasi. 
  1. Moda Tatap Muka : Moda tatap muka merupakan bagian dari sistem pembelajaran di mana terjadi interaksi secara langsung antara fasilitator dengan peserta pembelajaran. Interaksi pembelajaran yang terjadi dalam tatap muka meliputi pemberian input materi, tanya jawab, diskusi, latihan, kuis, praktik, dan penugasan. Moda tatap muka diperuntukkan bagi guru yang memerlukan peningkatan kompetensi yang lebih intensif dengan mempelajari 8-10 modul. Di samping itu, untuk memberikan pilihan penyelenggaraan pembelajaran bagi guru yang tidak punya cukup pilihan karena berbagai keterbatasan sehingga tidak memungkinkan untuk mengikuti pembelajaran moda lainnya, misalnya karena alasan geografis, tidak/kurang tersedianya aliran listrik dan jaringan internet, ketersediaan anggaran, literasi teknologi informasi dan komunikasi, serta alasan lain yang rasional, Pemilihan berbagai alternatif moda tatap muka tetap harus mempertimbangkan hasil UKG yang tercermin dari jumlah modul yang perlu dipelajari oleh guru. 
  2. Moda Daring : Moda Dalam Jaringan (Daring) adalah program guru pembelajar yang dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi jaringan komputer dan internet. Moda Daring dapat dilaksanakan dengan mempersiapkan sistem pembelajaran yang secara mandiri memberikan instruksi dan layanan pembelajaran kepada peserta tanpa melibatkan secara langsung para pengampu dalam proses penyelenggaraannya.  Sistem instruksional yang dimaksud meliputi proses registrasi, pelaksanaan pembelajaran, tes akhir, dan penentuan kelulusan peserta serta penerbitan sertifikat. Moda Daring diperuntukkan bagi guru  yang memerlukan peningkatan kompetensi dengan mempelajari 3-5 modul.
  3. Moda Daring Kombinasi : Moda daring kombinasi adalah moda yang mengkombinasikan antara tatap muka dengan daring. Fasilitator di satu sisi dapat direpresentasikan oleh sistem pembelajaran yang terdiri dari firmware, brainware, dan software; dan peserta di sisi lain melaksanakan instruksi yang diberikan oleh sistem, mulai registrasi, pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan evaluasi. Moda Daring Kombinasi dilaksanakan dengan mempersiapkan sistem pembelajaran yang membutuhkan keterlibatan secara langsung para pengampu dalam proses pembelajaran. Keterlibatan para mentor dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara: (1) bertemu muka secara langsung dengan peserta; atau (2) bertemu muka secara virtual, baik melalui video, audio, maupun teks. Moda Daring Kombinasi diperuntukkan bagi guru  yang memerlukan peingkatan kompetensi dengan mempelajari 6-7 modul. Penjelasan lebih lanjut pelaksanaan program guru pembelajar moda daring dan daring daring kombinasi dijelaskan dalam juknis moda daring.
Sebagai gambaran bagi kita pendidik (guru) bahwa Kriteria Capaian Minimal (KCM) untuk UKG 2016 akan naik secara bertahap dari 5.5 ditahun 2015 akan menjadi 8.0 ditahun 2016. untuk itu pesan besar yang ingin kami sampaikan adalah bahwa sebagai seorang pendidik kita harus belajar terus menerus (belajar sepanjang hayat).
Untuk moda Daring / Online dan Daring Kombinasi / Bleanded pada program guru pembelajar dapat diakses melalui alamat http://gurupembelajar.id dengan username dan password yang dapat anda peroleh dari Dinaas Pendidikan Kabupaten Kota masing-masing. Hasil UKG 2015 merupakan pemetaan awal sekaligus bentuk test awal program Guru Pembelajar, sedangkan test akhirnya adalah UKG 2016.
Demikian sedikit paparan mengenai Program Guru Pembelajar, semoga semua dapat lebih tercerahkan. SAVE4TIK.

 



Kamis, 21 April 2016

Benchmarking IDL 2016 - South Korea (SAVE FOR TIK)

Indonesia Digital Learning (IDL) My Teacher My Hero (MTMH) Award 2015 adalah salah satu program kerjasama PB PGRI dan PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) yang menghasilkan 45 guru terbaik yang untuk selanjutnya dilakukan training (bootcamp) selama 4 hari, kemudian menghasilkan serta terpilihlah 8 guru terbaik dari IDL MTMH 2015. Delapan orang guru terbaik tersebut mendapatkan penganugrahan sebagai Guru Inovatif pada perayaan puncak peringatan hari Guru / ulang tahun PGRI ke-70 di Gelora Bung Karno. Kedelapan orang guru inovatif tersebut memperoleh kesempatan untuk melakukan bencmarking / study banding pembelajaran berbasis TIK ke sekolah international di Korea Selatan dari tanggal 12 sampai dengan 16 April 2016.
Meskipun bukan pertama kali mendaratkan kaki di lapangan udara Incheon - Korea Selatan, namun dalam kunjungan study banding kali ini kami benar-benar berkesempatan mengetahui Korea Selatan secara lebih mendalam, khususnya dibidang pendidikan dan kebudayaan masyarakat Korea Selatan.
Dalam perjalanan berkeliling beberapa provinsi di Korea Selatan pemandangan pertama yang kami lihat adalah Cherry Blossom yang memang hanya dapat ditemui pasca musim dingin/salju sebagai salah satu daya tarik kunjungan wisata ke Korea Selatan, kemudian acap kali bus yang kami tumpangi masuk dan keluar terowongan-terowongan megah yang membelah serta menembus pegunungan kapur dan granit yang memang membentang di semenanjung Korea. Benarlah adanya Korea Selatan bukan hanya dikenal sebagai negara Ginseng yang maju dan modern, tapi juga negara dengan seribu terowongan.
Korea Selatan baru merdeka pada 15 Agustus 1948 serta diterpa konflik dan perang saudara beberapa waktu lamanya bahkan hingga sekarang. Tidak ada hasil minyak, gas bumi dan hasil alam yang melimpah untuk bisa dinikmati masyarakat Korea karena memang daerahnya pegunungan kapur yang untuk bisa membuat tomat dapat tumbuh saja diperlukan perjuangan dan usaha yang sulit. Keadaan semacam ini membuat masyarakat Korea memiliki karakter yang kuat dan tangguh, terlebih lagi adanya wajib militer terhadap warga Korea membuat rasa nasionalisme dan kebangsaannya begitu kuat dan membara.
Hampir-hampir sulit kami temukan semisal mobil-mobil buatan Eropa dan Jepang bertebaran di seantero jalan di kota Seoul, karena mereka sangat cinta sekali produk dalam negeri seperti Hyundai, KIA, Samsung dan beberapa merk mobil lainnya yang merupakan buatan dalam negeri. Begitu pula dengan produk-produk elektronik dan kosmetika semua merupakan hasil produksi dalam negeri Korea Selatan.
Sebelum melakukan kunjungan di dua sekolah yang telah diagendakan dalam bencmarking kali ini, saya mendapat kehormatan di kunjungi di penginapan oleh seorang sahabat warga lokal dimana sebelumnya kami pernah bertemu di Intel Corporation Headquarter, California dalam kegiatan Intel Educator Visionaries, beliau adalah Mr. Chankyu Park seorang guru sekolah dasar (SD) di Shinnamsung Elemetary School. Beliau menghadiahkan kami dua buah Hamster Robot untuk dipakai dan dipergunakan dalam proses pembelajaran Komputer Sains di sekolah, tidak hanya itu kami juga dijarkan cara mengoperasikan dan mendeliverednya ke peserta didik. Di sekolah ini, peserta didik tidak hanya diajarkan komputer sains seperti coding dan scratch namun mereka juga diajarkan aplikasinya langsung terhadap robot-robot mini. Hampir sulit terbayang kemampuan siswa SD di Korea yang di Indonesia baru di dapat di jenjang SMA/SMK, itupun tatkala TIK masih sebagai mata pelajaran wajib di sekolah. 
 
Terbayang mengapa Korea Selatan yang merdekanya lebih muda dari Indoensia, perang saudara berkepanjangan namun mampu bangkit lebih cepat karena salah satunya disebabkan kebijakan pemerintahan mengenai Cyber 21 di awal tahun 70an, bahkan Cyber Education diluncurkan secara masif oleh Presiden Kim Daejung pada tahun 1999 yang menekankan pentingnya proyek-proye-education dalam pemanfaatan ICT dalam bidang pendidikan dan untuk menghasilkan guru-guru yang berkualitas yang memiliki latar belakang yang kuat dalam ICT yang merupakan tuntutan sistem ekonomi modern. 
Sempat kami bertanya dan berdiskusi cukup panjang mengenai kebijakan mengenai pelajaran komputer science (TIK) dengan kepala sekolah  dan guru di dua sekolah yang kami kunjungi yakni Kojan Elementary School dan Buwon Girls's Middle School termasuk juga Shinnamsung Elemetary School. Ketika kami tanya "Korea Selatan adalah negara maju khususnya dibidang science dan teknologi, bahkan peserta didik anda tampak sudah sangat mahir dengan penggunaan Internet, Tablet dan ICT. Lalu untuk apa lagi ada pelajaran Komputer Science diajarkan lagi kepada mereka, bahkan diajarkan mulai level pendidikan dasar (SD) ?", jawaban mereka adalah "komputer science / TIK bukan sekedar tools/alat untuk pembelajaran, komputer science mendidik dan menstrimulus kemampuan High Order Thinking Skills (HOTS) karena mereka diajarkan komputational thinking, design thinking, critical thinking dan kemampuan untuk mencipta/creation. Jadi tidak semata using technologi yang cenderung konsumtif".
        
Hal bertolak belakang dengan kebijakan pendidikan TIK di Indonesia yang saat ini malah menghapus mata pelajaran TIK yang sebelumnya merupakan mata pelajaran wajib menjadi Bimbingan TIK dan terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang dalam tatanan konsep, praktek dan implementasinya dilapangan masih harus dikaji bahkan ditinjau ulang. Semua guru-guru di beberapa sekolah yang kami kunjungi telah mengintegrasikan TIK kedalam proses pembelajaran mereka, namun hal tersebut tidak menghentikan Computer Science untuk tetap diajarkan sebagai mata pelajaran wajib untuk ketahanan dan kepentingan nasional negara mereka.
Jika karena konten mata pelajaran TIK di Indonesia yang out of date yang menjadi dasar dihapuskannya mata pelajaran TIK, maka semestinya akan lebih baik jika kontennya yang diperbaiki dan di upgrade, bukan dengan mengaborsinya. TIK lahir sebagai mata pelajaran dengan kajian akademis yang komprehensif dan mendalam, sementara penghapusannya tidak melalui kajian dan pertimbangan akademis yang matang.
Berbicara mengenai standar nasional pendidikan di negara Korea Selatan memang cukup tinggi, namun beberapa hal sebenarnya masih relatif sama dengan Indonesia. Misalnya saja untuk jumlah mata pelajaran di setiap jenjang pendidikan, jumlahnya tidak berbeda jauh dengan yang ada di negara kita, bahkan jam sekolah mereka cenderung lebih lama dari jam pembelajaran di Indonesia. Korea Selatan lebih mementingkan proses pembelajaran yang berkualitas sehingga di jenjang pendidikan menengah kebawah tidak dikenal ujian kenikan tingkat dan ujian nasional seperti layaknya di negara kita Indonesia. Standar gurunya pun cukup tinggi sama halnya seperti dinegara kita harus melalui serangkaian seleksi ketat dan magang terlebih dahulu tentunya dengan tingkat kesejahteraan yang sangat baik.
Hal menarik lainnya masih berhubungan dengan TIK dimana terdapat WiFi disetiap sekolah untuk akses internet gratis, bahkan di publik area seperti halte, bus, taman dll terdapat free wifi dengan kecepatan tinggi yang konon katanya Korea Selatan adalah salah satu negara dengan kecepatan internet tertinggi di dunia. Namun demikian pemerintah Korea Selatan menerapkan kebijakan cukup ketat mengenai apa yang bisa diakses dan apa yang tidak bisa diakses oleh peserta didik. Peserta didik juga diperbolehkan membawa smarpone mereka untuk mendukung proses pembelajaran. Siswa sepertinya asyik dengan proses pembelajaran karena iklim proses pembelajaran, penilaian dan kompetisi yang dibangun sudah sedemikian nyaman, menyenangkan serta berbantuan TIK.
Selain Korea Selatan, Amerika Serikat merupakan salah satu negara maju lainnya yang mulai menyadari betapa bergunanya Computer Science bagi masa depan negaranya seperti yang pernah disampaikan sendiri oleh Presiden Obama bahwa Setiap orang harus belajar bagaimana melakukan "Coding". "Belajar keterampilan ini (coding/computer science) tidak hanya penting untuk masa depan Anda. Sangat penting untuk masa depan negara kita", kata Presiden dalam video yang di release oleh Code.Org, . "Jika kita ingin Amerika tetap berada di garis depan technologi, kita perlu orang Amerika muda seperti Anda untuk menguasai alat-alat dan teknologi yang akan mengubah cara kita melakukan apa saja."
Bagaimana dengan Pemerintah Indonesia ? Presiden Jokowi, sudah melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk menjajaki kerjasama dengan beberapa perusahan teknologi raksasa di dunia seperti Google, Microsoft, IBM, Cisco, Apple, Facebook dan perusahaan lainnya. Sebuah terobosan yang cukup monumental, namun harapannya harus menguntungkan kedua belah pihak. Tidak hanya jadi pengguna teknologi atau pasar tekhnologi akan tetapi harus ada transfer technologi dan salah satunya adalah memperkuat sisi SDM muda dan produktif Indonesia dengan membekali mereka dengan Computer Science (Pelajaran TIK) sejak usia dini seperti yang dilakukan di Amerika dan Korea Selatan.
Kita yakin, optimis dan masih memiliki harapan untuk Indonesia yang lebih baik sepanjang kepentingan Nasional diatas segalanya.