Jumat, 08 Mei 2015

Prakarya Tidak untuk Diajarkan, TIK Sebagai Mata Pelajaran?

Dalam Kurikulum 2013 Prakarya dan Kewirausahaan merupakan mata pelajaran baru namun menjadi pusat perhatian bagi banyak pihak bahkan tidak sedikit yang memperebutkan bak seorang perawan nan cantik meski bibit, bebet dan bobotnya tidak begitu diketahui silsilah jelasnya.
Prakarya dan Kewirausahaan (P&K) yang di awal kelahirannya "dianggap" sebagai pengganti mata pelajaran TIK / KKPI yang hilang dari sturktur Kurikulum 2013, pendapat tersebut sah-sah saja mengingat ketika ada mata pelajaran baru masuk dalam hal ini  P&K tentu agar beban kurikulum tidak bertambah signifikan maka tentu ada pula mata pelajaran yang mesti di "integratifkan" sebagai bagian dari mata pelajaran lain, jika tidak ingin menyebut bahwa TIK/KKPI dihapuskan.
Sementara disisi lain ada sedikit "hembusan angin surga" dengan kelahiran P&K tersebut karena guru mata pelajaran yang paling mendekati dan cocok untuk mengajar P&K adalah guru Ekonomi dan guru Kewirausahaan di SMK. Guru ekonomi yang jumlahnya cukup banyak sedikit diuntungkan dengan kelahiran mata pelajaran P&K karena sedikit banyak dapat mengatasi pemenuhan kekurangan / kebutuhan dan tuntutan 24 jam tatap muka. Angin surga ini terus berhembus hingga suatu ketika dimana batas waktu penerapan UU Guru dan Dosen serta PP 74 yang pada 1 Januari 2016 nanti mengamanatkan pemberlakuan penuh (100%) terhadap butir-butir pasal yang terdapat didalamnya yang salah satu pasal menyatakan bahwa Guru harus Linier antara Latar belakang Pendidikan / Kualifikasi Akademik (S1) dengan Mata Pelajaran yang diampu serta harus memiliki Sertifikat Pendidik yang juga linier.
Kini kata - kata linier ini tidak hanya menghantam guru-guru TIK/KKPI yang memang sejak awal kelahirannya banyak dirugikan karena banyak yang berasal dari latar belakang akademik yang tidak sesuai dengan tuntutan UU Guru dan Dosen serta amanah PP 74. Kata - kata linier ini pun kini menjadi badai yang membuyarkan angin surga guru-guru ekonomi yang tengah mengajar P&K karena mereka dianggap juga tidak linier dan tidak punya kewenangan untuk mengajar P&K dan ini terbukti dengan banyaknya teman-teman guru ekonomi yang SK TPP nya tidak keluar karena dianggap guru Ekonomi Tidak Linier dengan mata pelajaran P&K, apalah lagi guru TIK dengan mata pelajaran P&K.
Selanjutnya penulis mencoba menganalisis mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dalam perpesktif yang berbeda agar ANDA mendapat gambaran lain dan tidak salah langkah dalam menyikapinya serta jangan sampai mengulang nasib mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai mata pelajaran yang hidup segan mati tak mau, bak seperti Anak Kandung yang kelahirannya tidak diinginkan oleh orang tuanya.
Menurut kajian teknisnya, mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dapat digolongkan ke dalam pengetahuan ­transcience-knowledge, yaitu mengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan kecakapan hidup berbasis seni dan teknologi berbasis ekonomis. Pembelajaran ini berawal dengan melatih kemampuan ekspresi-kreatif untuk menuangkan ide dan gagasan agar menyenangkan orang lain, dan dirasionalisasikan secara teknologis sehingga keterampilan tersebut bermuara apresiasi teknologi terbarukan, hasil ergonomis dan aplikatif dalam memanfaatkan lingkungan sekitar dengan memperhatikan dampak ekosistem, manajemen dan ekonomis.
Prinsip mencipta, yaitu memproduksi dan mereproduksi diharapkan meningkatkan nilai sensibilitas terhadap kemajuan jaman sekaligus mengapresiasi teknologi kearifan lokal yang telah mampun mengantarkan manusia Indonesia mengalami kejayaan pada masa lalu melalui Kerajinan, Rekayasa, Budidaya dan Pengolahan.
Tujuan keberadaan mata pelajaran P&K akan berhasil atau minimal dapat menjadi stimulus jika tidak hanya sebatas teori, andaipun bisa lebih dari sekedar teori paling banter masuk sampai keranah praktik, tidak sampai masuk ke ranah lifeskiil dalam kehidupan nyata karena diajarkan tidak holistic serta keberadaanya tidak integrative dalam setiap mata pelajaran. Kami ambil contoh sederhana dimana banyak guru P&K yang mengajarkan peserta didiknya membuat VAS BUNGA atau CUP LAMPU dari limbah bekas. Namun pada kenyataanya bahan bakunya semisal sendok plastic untuk membuat VAS BUNGA didapatkan dengan cara membeli baru. Bahkan "tumpukan" hasil karya siswa tersebut banyak "teronggok" memenuhi gudang-gudang sekolah yang bisa dikatakan karya siswa tersebut hanya menjadi onggokan "sampah model baru".
Arah pendidikan prakarya dan kewirausahaan yang diinginkan pemerintah sesuai kurikulum 2013 ini haruslah jelas. P&K itu bukan sekedar belajar teori, menghasilkan produk lalu diujikan. Justru, pendidikan kewirausahaan harus bisa nyata dialami siswa.
Banyak negara-negara berkembang mulai tersadar akan pentingnya lifeskill atau kecakapan hidup dalam bersaing di Abad 21. Untuk itu proses pendidikan dan pembelajaran juga hendaknya mengadaptasi hal ini.
Pendekatan pembelajaran saintifik (scientific approach) dan model pembelajaran berbasis project (project based learning) selain model problem based learning dan discovery inkuery dalam Kurikulum 2013 telah direkomendasikan untuk digunakan oleh semua guru dalam proses pembelajaran seperti tercantum dalam standar proses dan standar penilain, mengapa ?
Di banyak negara maju, project based learning sudah sangat familier dengan para guru-gurunya karena model pembelajaran ini dianggap paling mungkin untuk dapat mentranformasikan pelajaran di sekolah kedalam keghidupan nyata agar kecakapan hidup di abad 21 bisa diraih peserta didik sehingga pembelajaran lebih bermakna.
Apa itu kecakapan abad 21 yang mesti dikuasai peserta didik agar mampu bersaing di abad 21 ? adalah Kreatifitas dan Inovasi, Kemampuan berfikir kritis dan pemecahan masalah, Kemampuan Komunikasi dan Kolaborasi, Kecakapan Informasi, Media dan ICT, Kemampuan beradaptasi, Inisiatif, Kecakapan Sosial, Kepemimpinan dan Tanggungjawab.
Dan inilah yang kita  - Indonesia perlukan, tentunya melalui proses pembelajaran yang baik, benar, fokus dan terarah. Jika semua guru mata pelajaran dapat menerapkan pembelajaran berbasis project dengan baik dan benar, maka Tujuan adanya mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan mestinya tidak relevan lagi mengingat P&K bisa integrative dengan semua mata pelajaran
Intel Education misalnya melalui Intel Teach mengajak dan mengajarkan guru untuk menggunakan model pembelajaran berbasis proyek sejak beberapa tahun silam yang kemudian model tersebut banyak digunakan dan dijadikan rujukan dibanyak negara dalam implementasi pembelajaran abad 21 termasuk negara kita tercinta Indonesia.
Akhirnya penulis berpendapat akan lebih baik jika Prakarya dan Kewirausahaan diintegrasikan (integrative) dengan semua mata pelajaran melalui model pembelajaran berbasis proyek (project based learning) agar tujuan dari adanya mata pelajaran P&K bisa maksimal tercapai.
Disisi lain mata pelajaran TIK/KKPI yang kini fungsinya sedikit bergeser dari tujuan awal adanya mata pelajaran ini bisa dikembalikan kedalam struktur kurikulum karena siswa masih memerlukannya begitu pula guru dan tenaga kependidikannya. TIK/KKPI tidak cukup dintegrasikan dalam semua mata pelajaran apalagi hanya menjadi sebuah "model layanan".
Kehadiran TIK/KKPI sebagi sebuah mata pelajaran beberapa waktu lalu tidak bisa dipungkiri telah menjadi stimulus bagi perkembangan teknologi pembelajaran di Negara kita tercinta ini. Kesenjangan pengetahuan antara wilayah perkotaan dengan pedesaan juga sedikit demi sedikit terkikis. Namun kini sejak TIK/KKPI diintegrasikan dalam semua mata pelajaran serta dalam bentuk layanan, KITA cendrung stagnan bahkan kesenjangan semakin tampak jelas didepan mata.
Di jenjang pendidikan SMA/SMK atau sederajad tahun ini merupakan tahun terakhir menerima intake/input siswa kelas X yang masih mendapatkan mata pelajaran TIK di jenjang SMP atau sekolah asalnya. Satu tahun kedepan keadaan tentu akan semakin sulit lagi dimana peserta didik disemua jenjang akan miskin kemampuan/kecakapan/literasi  informasi, literasi media dan literasi ICT yang merupakan bagian dari kemampuan yang harus dikuasai peserta didik untuk dapat bersaing di abad 21 ini.
Tidak ada jalan lain untuk saat ini selain mengembalikan TIK/KKPI sebagai sebuah mata pelajaran yang harus diajarkan disemua jenajng dan tingkatan tentu dengan melakukan perbaikan terhadap muatan dan konten kurikulumnya dengan mengadaptasi kebutuhan di abad 21 ini.
Akhir kami berharap banyak kepada para pemimpin dan pengambil kebijakan pendidikan di negeri ini, akan dapat membuka hati dan fikirannya untuk dapat melihat lebih jernih harapan-harapan kami yang juga anak bangsa ini.
Tetap optimis dan semangat tiada henti.
Bogor, 27 Maret 2015
FathurRachim, S.Kom, M.Pd
ICT Teacher - SMAN 10 Samarinda & SMK Plus Melati Samarinda Chairman of Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (www.agtifindo.orgGoogle Educator Group Leader Kalimantan Timur
Intel Teach - Master Trainer
G+FathurRachim / @fathur_kaltim / WA 081952573493
Reaksi: