Jumat, 14 Juli 2017

Workshop G-Suite for Education & Sains Komputer

Roadshow AGTIFINDO to JOGJA kali ini mengambil tema Google Suite (G-Suite) for Education dan Sain Komputer. Tema ini dipilih karena memang menjadi fokus tersendiri bagi AGTIFINDO untuk memasyarakatkannya guna meningkatkan mutu dan kompetensi guru-guru TIK/KKPI. Kegiatan yang diselenggarakan di Edutel Yogyakarta pada 9-10 Desember 2016 ini diikuti oleh pengurus DPP AGTIFINDO dan DPD AGTIFINDO Yogyakarta dan anggota.
Adapun materi lengkap sebagai berikut :

1.Arah kebijakan TIK/KKPI
2.Sain Komputer by Eduspec
3.Sain Komputer by Intel Indonesia
4.Sain Komputer by Scratch/Dicoding
5.Penyusunan KI/KD TIK (Sain Komputer)
6. Penyusunan buku TIK (Sain Komputer)
7.Workshop GEG : (Umum)
   Google Forms untuk Ujian, Penilaian, Analisis, Media, MobileApp, PPDB/PSB
8.Sosialisasi Eraport SMA (Ekstra-Umum)

Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yg telah membantu terselenggaranya kegiatan ini.








Jumat, 19 Mei 2017

UNGKAP MISTERI UN & USBN di SMA/MA ?

Pasca Ujian Nasional (UN) yang sudah tidak menentukan lagi secara dominan dalam kelulusan dan pasca "ditolaknya" moratorium UN, kini hadir sebuah istilah baru atau nomenklatur baru yang sedikit asing dikuping dan ditafsirkan berbeda-beda oleh berbagai pihak, nomenklatur yang dimaksud adalah USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional). UN tetap berjalan dan USBN tetap dilanjutkan.

USBN yang di lounching beberapa waktu yang lalu bukan merupakan rencana pengganti UN. USBN hadir untuk meningkatkan mutu/kualitas Ujian Sekolah (US) yang selama ini dianggap sebelah mata oleh banyak orang baik dari kalangan guru, siswa hingga orang tua. Ada semacam dikotomi antar mapel UN dan Non-UN, ada semacam kesenjangan perlakuan antara anak emas (mapel UN) dan anak perak serta anak perunggu (Non-UN). 

Banyak sekolah yang melakukan percepatan mapel Non-UN hanya sampai akhir semester 5, padahal Output dari sebuah pendidikan formal untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang dijabarkan kedalam KI/KD semua mata pelajaran yang diajarkan selama peserta didik menempuh pendidikan baik kemampuan/kompetensi Spritual, Sosial, Pengetahuan dan Keterampilan. Jangan sampai sekolah terjebak lagi dengan pola menganakemaskan mapel UN dan USBN sehingga mengabaikan mapel non UN/USBN.

Untuk USBN, kisi-kisi soal telah dibuat dan disediakan oleh BSNP dan Puspendik untuk selanjutnya akan didistribusikan. Kisi-kisi USBN bergantung dengan Kurikulum yang berlaku di Satuan Pendidikan (bukan irisan K2006 dan K13), kisi-kisi yang ada tersebut berbentuk kisi-kisi umum (blue print) bukan berbentuk indikator soal dan memiliki tingkat paralel sola yang banyak. Materi yang keluar mengacu pada materi-materi essensial dan materi-materi berprasarat/berkelanjutan. Dan soal yang dikembangkan mengarah ke kemampuan berfikir kritis (HOTS) sekitar 25% dan 75% soal-soal sederhana ( Level 1 hingga Level 3) yang dibuat oleh provinsi/kabupaten/kota.

Data yang kami peroleh dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) dan Direktorat Pembinaan SMA pada Subdit Penilaian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan didapatkan kesimpulan awal bahwa terdapat ksesenjangan yang cukup lebar antara hasil Ujian Nasional (UN) dan hasil Ujian Sekolah (US). Berdasarkan hasil telaah dan analisa data diperoleh informasi bahwa hal ini disebabkan banyak faktor, diantaranya adalah kualitas soal UN dan US yang berbeda sehingga tidak dapat mengukur pencapaian KD dan SKL, disampaing permasalahan lain seperti manajemen penyelenggaraan US, Integritas, Kompetensi Profesional dan Pedagogis seorang guru dan lain sebagainya.

UN dan USBN hadir keduanya didalam sistem penilaian di Indonesia sebagai sebuah kompromi positif untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan hasil ujian guna pemetaan mutu pendidikan guna mencari treatmen terbaik untuk menyelesaikan temuan permasalahan dan kekurangan yang masih ada dan terdapat dalam UN. Ketika banyak sekolah sudah mulai memilih penyelenggaraan UN-BK maka Indeks Integritas UN agak sulit untuk diukur jika dibandingkan dengan UN-Berbasis Kertas sehingga hadirlah pola yang ada saat ini sebagai salah satu pertimbangannya.

Selama ini kita hampir selalu mengacu pada hasil PISA, TIMSS dan INAP untuk memetakan mutu pendidikan di Indonesia selain dari UN yang kita selenggarakan sebagai pembanding. Kita berharap banyak dari mekanisme USBN dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan US disatu sisi dan sekaligus meningkatkan kualitas soal-soal ujian yang ada dengan harapan proses pembelajarannyapun akan berubah dan mengarah ke Communication, Colaboration, Critical Thinking dan Creatifity (4C).

Pada jenjang SMA/MA, peserta didik akan mengikuti ujian 3 Mapel UN + 1 Mapel Pilihan Jurusan. Peserta didik diberikan kebebasan memilih salah satu mata pelajaran pilihan jurusan yang menimbulkan tanda tanya besar, mengapa hanya 1 ? Satu mata pelajaran dianggap telah cukup untuk mewakili seluruh mata jurusan yang ada. Mapel bahasa digunakan untuk mengukur nilai kompetensi literasinya, matematika untuk mengukur salah satu kemampuan dasarnya, dan 1 mapel jurusan untuk mengukur kompetensi keahlian dominan di jurusan yang dia ambil.

Pertanyaan berikutnya yang akan timbul tentu adalah pertimbangan apa yang akan dilakukan dalam memilih mata pelajaran pilihan tersebut ? Pertimbangan paling praktis dan pragmatis yang mungkin akan diambil siswa atau orang tua adalah mengacu pada tingkat resistensi mata pelajaran hubungannya dengan soal-soal yang akan keluar dan estimasi nilai yang akan didapat, ada pula pertimbangan lainnya yakni jurusan yang akan ditempuh pada perguruan tinggi yang akan dituju. Jika diserahkan kesekolah yang menentukan mata pelajaran pilihan jurusan tersebut tentu pertimbangannya akan lain lagi, misalnya kemudahan dalam pengadministrasian dan target pencapaian Indeks Integritas UN/USBN dsb.

Misteri lainnya dibalik pilihan mata pelajaran tersebut adalah untuk memperoleh data dan informasi mengenai berbagai permasalahan yang ada disatuan pendidikan. Apakah masalahnya ada pada peserta didiknya, terdapat pada gurunya, atau malah satuan pendidikannya yang bermasalah, atau instrumen dan soal yang digunakan bermasalah. Misal saja dari 100 siswa yang menempuh ujian akhir di sebuah satuan pendidikan, 45% memilih mapel A, 30% memilih Mapel B dan 25% memilih Mapel C, serta semua siswa juga memilih Mapel USBN 3 Mapel + 3 Mapel Jurusan. Artinya seorang siswa akan mengikuti UN Pilihan Kimia sekaligus akan mengikuti juga USBN Kimia, what Next ?

Hampir-hampir belum ada sekolah yang mengeluarkan kelulusan "Double Degree", artinya siswa akan menerima sertifikat/ijasah Lulus UN dan sertifikat/ijasah Lulus US. Yang banyak terjadi saat ini adalah sertifikat/ijasah kelulusan yang mempertimbangkan UN dan US dengan proporsional. Jarang sekolah menetapkan Standar Kelulusan diatas Standar Nasional, bahkan hampir-hampir tidak ada dan sukar ditemukan siswa yang dinyatakan Lulus UN namun dinyatakan tidak Lulus Ujian Sekolahnya terkecuali karena alasan Sakit, Menikah, Masuk Sel atau Meninggal Dunia.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan variasi soal ujian yang diberikan karena Pilihan Ganda (PG) tidak mampu menstimulur dan mengukur secara maksimal untuk kemampuan peserta didik dalam kompetensi/kecakapan Abad 21 yakni, Communication, Colaboration, Critical Thinking dan Creatifity (4C). Pilihan ujian dengan uraian / isian merupakan tantangan kedepan bagi penyelenggaraan USBN dan bentuk-bentuk ujian atau penilaian lainnya yang diselenggarakan oleh pihak sekolah.

Saatnya kita, guru dan satuan pendidikan untuk berbenah guna meningkatkan kualitas Ujian dan Proses pembelajaran yang lebih berkualitas dan lebih bermartabat dari yang ada saat ini. Keluar dari Zona Nyaman itu merupakan Pilihan !

(Analysis by Fathur)

Minggu, 18 Desember 2016

UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL

Hari ini hingga empat hari kedepan,  saya berada di The Sultan Hotel Jakarta, 18-21 Desember 2016 dalam  rangka mempersiapkan Kisi-kisi dan soal-soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), GTK mengadakan kegiatan penyusunan Kisi-Kisi  Soal  Ujian Sekolah  Berstandar  Nasional  yang  melibatkan berbagai pemangku kepentingan terkait  yakni  Balitbang, BSNP, Puspendik, Puskurbuk, Pakar  dari  berbagai  mata  pelajaran, Ditjen GTK, dan Ditjen Dikdasmen.

Arah kedepan,  dimana UN sudah tidak menentukan kelulusan maka penguatan Ujian Sekolah yang bermartabat, berkualitas dan kredibel menjadi sebuah keniscayaan mengingat di Sekolahlah masa depan bangsa ini akan ditentukan.

USBN yang digadang-gadang sebagai formulasi baru pengganti UN (meski bukan demikian) akan tetap dilanjutkan meskipun moratorium UN tidak jadi dilaksanakan.

Data hasil telaah soal ujian sekolah yang ada tergambar bahwa soal yang dibuat oleh guru-guru kita masih berada di level C2 dan C3 dan banyak pula ditemukan soal-soal yang ditulis tidak memenuhi kaidah penulisan butir soal.

Tetap semangat menjaga kualitas Ujian Sekolah paper/komputer based karena semua pelajaran itu penting!!!

Pertanyaan yang menarik adalah TIK termasuk yang akan di USBN-kan ?  Sudahkah siap siswanya di era TIK menjadi B-TIK, dimana siswa tidak memiliki kompetensi terstandarisasi yg cukup untuk diUJI karena diajarkan secara sporadis tidak diajarkan secara terstruktur di kurikulum 2013.

Akankah ini bagian akhir atau lembaran awal berakhirnya mimpi buruk tentang B-TIK...? :D

Implikasinya,  sudah akan berkurang dikotomi antara mata pelajaran UN dan Non-UN.  Sudah tidak akan ada lagi percepatan mapel Non-UN agar ditamatkan diakhir semester 5. Siswa akan dikejutkan dengan bentuk soal uraian yang diharapkan dapat memicu creatifity, critical thinking, colaboration dan communication.

Tentu PR sekolah selanjutnya adalah tidak hanya mengembalikan mapel-mapel Non-UN kehabitatnya,  akan tetapi mampu melatih guru-guru dalam membuat soal-soal yang baik, benar, HOTS serta HODS.

Kesimpulannya, ada UN maupun tidak ada UN,  ada USBN maupun tidak ada USBN soal yg dibuat guru harus benar-benar berkualitas dan dapat mengukur kompetensi peserta didik, sehingga pada akhirnya diharapkan proses pembelajaran pun akan lebih berkwalitas.

Minggu, 02 Oktober 2016

ALIH FUNGSI GURU TIK/KKPI DAN MAPEL LAINNYA? (Tanda Kiamat B-TIK)

Beberapa hari terakhir ini, sebagian besar bapak/ibu guru yang masuk dalam program guru pembelajar akan mendapatkan notifikasi seperti tampak pada gambar disamping ketika mebuka aplikasi "sim.gurupembelajar.id". Notifikasi tersebut berisi pemberitahuan tentang Pendaftaran Program Sertifikasi Guru dan Sertifikasi Keahlian Guru SMK/SMA (Alih Fungsi).
Adapun isi lengkap dari notifikasi tersebut adalah " .... Menindaklanjuti Inpres No. 9 tahun 2016, maka Dirjen GTK menyelenggarakan Pendaftaran Program Sertifikasi Guru dan Sertifikasi Keahlian Guru SMK/SMA (Alih Fungsi) atau resertifikasi prioritas bagi :

  1. Guru SMK yg mengajar mata pelajaran adaftif khususnya mapel IPA, IPS, Kewirausahaan dan KKPI
  2. Guru TIK SMA dan guru teridentifikasi berlebih antara lain guru PPKN, Biologi, Fisika, Kimia, Geografi, Ekonomi, Bahasa Asing dan Antropologi

Ada beberapa hal menarik untuk dicermati sehubungan dengan notifikasi tersebut :
  1. Notifikasi tersebut lebih menyorot keberadaan dan eksistensi guru KKPI dan guru TIK yang mungkin sudah dianggap tidak ada di peta kurikulum oleh dirjen GTK.
  2. Jika mengacu pada kondisi sekarang jumlah guru TIK untuk melaksanakan permendikbud 68 & 45 masih jauh dari cukup. Masih dibutuhkan 3-4 kali lipat dari jumlah guru TIK (K13) yang masih tersisa sekarang dengan asumsi 1 orang guru TIK mengampu 150 siswa/peserta didik. Disatu sisi kekurangan disisi lain dianggap berlebihan bahkan cendrung tidak perlu (semoga yg bermazhab BTIK cepat sadar)
  3. Diawal tahun 2005/2006 saat kurikulum 2006 lahir dimana TIK saat itu masuk sebagai mata pelajaran wajib, kebijakan pemerintah saat itu mengizinkan semua guru mapel dapat mengampu mata pelajaran TIK/KKPI karena memang belum ada lulusan LPTK TIK dan kondisi darurat. Namun apa yg terjadi saat K13 lahir ? mereka semua hampir terdepak dari disiplin kompetensi baru mereka tersebut. Kini hal tersebut ditawarkan kembali kepada bapak/ibu guru. Apakah ada jaminan hal itu tidak terjadi lagi ? Apakah ada jaminan kebijakan tidak berubah ? Apakah ada jaminan regulasi akan menguntungkan mereka ? Silahkan bapak/ibu guru perhitungkan dengan matang
  4. So, bagi teman-teman setanah air, jangan terburu-buru mengambil sikap, terlebih disisa 2 tahun kepemimpinan nasional ini. 
  5. Hendaknya ada kajian mendalam dan konfrehensif jangan sampai merugikan guru, sehingga terkesan jadi kelinci percobaan kebijakan yang ada. 
  6. Pemerintah berupaya menggenjot SMK, namun kenyataannya penyumbang pengangguran terbesar berasal dari lulusan SMK (detik.com), jangan sampai guru-guru yang hijrah tersebut jadi pengangguran lagi disekolahnya terlebih di SMK mengenal Sistem On/Off untuk jurusan-jurusan tertentu. Disisi lain tuntutan Dapodik luar biasa tidak berfihak pada keberagaman yang ada di SMA/SMK. Sekali lagi pemerintah harus mengkaji benar-benar dari sisi siswa, guru, kurikulum dan sistem dapodik yang relatif statik yang cenderung tidak mendukung pengembangan di SMA/SMK.
Dan sebagai pertanyaan penutup dari tulisan saya kali ini adalah tanda-tanda kiamat B-TIK sudah didepan mata, masihkah anda menganggap B-TIK opsi terbaik ?

Sebagai bahan renungan (tulisan sebelumnya) :

Saat PP32 lahir sehingga TIK dihapuskan, kita katakan tolak PP32, TIK,/KKPI harga mati sebagai mapel, saat itu kita tidak mengatakan sudah realistis saja TIK sdh hilang sehingga ikuti sistem yg ada. Kita terus berjuang hingga lahir permen 68.

Saat Permen68 lahir, kita tetap katakan tolak permen68, TIK,/KKPI harga mati sebagai mapel, saat itu kita tidak mengatakan sudah realistis saja TIK sdh hilang sehingga ikuti sistem yg ada syukuri aja permen 68. Kita terus berjuang hingga lahir permen 45.

Saat Permen 45 lahir,  kita katakan tolak permen 45,  TIK,/KKPI harga mati sebagai mapel, saat itu kita tidak mengatakan sudah realistis saja TIK sdh hilang sehingga ikuti sistem yg ada syukuri permen 45. Kita terus berjuang hingga lahir TIK balik sebagai mapel.

Itulah yg namanya fokus terhadap fatsun kebijakan. Hanya oportunislah yg akan bernaung pada zona nyaman individu dan orang seperti ini biasanya tidak mengerti sejarah.

Jika dulu kita bersikap menerima PP32 maka kiamatlah saat itu guru tik/kkpi, begitulah pula sekarang, jika berhenti sampai di permen45 maka tinggal menunggu waktunya saja kiamat yg tertunda itu akan datang.

Menerima permen 68 dan 45 bukan berarti harus mensosialisasikan dgn kekeh. Terima dgn catatan artinya diterima namun tetap fokus pada perjuangan awal.  Jika tidak,  itulah yg namanya oportunis. Saat PP32 lahir ada oportunisnya,  saat permen68 lahir ada oportunisnya, saat permen45 lahir ada oportunisnya.... Namun yg masih berpegang pada fatsun politik kebijakan perjuangan masih sangat banyak dibanding para oportuniis...

O ya satu lagi,  nggak ada tuh kita singgung masalah sertifikasi..., Yg ngomongin sertifikasi ya diotaknya cuman ada duit doang.... Rusak dah tu otaknya...

1) mensoSIALisasikan btik tapi tdk melaksanakan atau 2) tidak ikut mensosialisasikan btik tapi melaksaakan atau 3) tidak ikut mensosialisasikan tapi melaksanakan dan terus berjuang tik menjadi mapel.

Diposisi ketiga itulah kami.

Jumat, 16 September 2016

E-Raport SMA 2016

Aplikasi e-raport jenjang SMA tahun 2016 telah dirilis untuk dapat digunakan secara gratis. Aplikasi ini menggunakan data prefil dari Dapodik 2016B dan hasil pengolahannya tersingkron ke Dapodik. Untuk saat ini eraport SMA baru dapat melayani secara maksimal untuk Kurikulum 2013 dengan Sistem Paket, sedangkan sistem SKS masih perlu penyesuaian lebih lanjut.

Aplikasi eraport ini direkomendasikan oleh direktorat PSMA dalam mempermudah pengelolaan nilai raport di sekolah khususnya pada jenjang SMA. Sedangkan untuk jenjang lainnya masih terus dikembangkan. Adapun beberapa catatan atau prasyarat agar aplikasi ini dapat berjalan maksimal sebagai berikut :

1. File installer terdiri dari 32 dan 64 bit dengan size/ukuran sekitar 25 MB
2. Disarankan menggunakan sistem Clien-Server (agar bpk/ibu guru bisa bekerja maksimal)
3. Pada PC/Laptop/Server yang digunakan telah terinstal Dapodikmen/Dapodik Ver. 2016B
4. Dapodik 2016B tersebut bukan hasil PATCHING (harus fresh installer)
5. Data pada Dapodik harus sudah terisi lengkap minimal sampai sub PEMBELAJARAN
6. Dapodik yang digunakan harus terisi data dengan menggunakan PREFILL terbaru 
7. Pada menu admin di Eraport terdapat tombol tombol Sinkron untuk melakukan proses sinkronisasi ke dapodik di PC untuk mengunduh data dapodik ke eraport. (eraport bekerja pada mode offline untuk sinkron ke data dapodik di server/PC lokal)
8. Untuk masuk ke admin gunakan username dan password admin
9. Ikuti dan selesaikan semua tahapan admin, guru, dan wali kelas.
10. Untuk user guru dan siswa lakukanlah proses generate
11. Untuk user wali kelas admin membuatkan sesuai data pada dapodik.

Versi 64 Bit http://drive.google.com/file/d/0Bxx_9zuh_ZHKQTZnNXVPRjJ0cDg/view?usp=drivesdk

Versi 32 Bit  https://drive.google.com/file/d/0Bxx_9zuh_ZHKQzljYkh5SC05Szg/view?usp=sharing

Link Terbaru : http://bit.ly/eraport2016

Selasa, 30 Agustus 2016

UJI PUBLIK KE-2 NASKAH AKADEMIK MAPEL TIK TERBARUKAN

Menindaklanjuti hasil Rekomendasi Tim TIK tentang Opsi Kebijakan Terhadap Kurikulum TIK Pada Pendidikan Dasar dan Menengah di Hotel Holiday Inn Express, Kemayoran, Jakarta yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 4 – 6 Agustus 2016 maka Asosiasi Guru Teknologi Informasi Indonesia (AGTIFINDO) telah selesai melakukan Kajian Akademis Mata Pelajaran TIK sebagai tahap awal untuk dapat menjadi landasan sekaligus masukan bagi Balitbang dan Puskurbuk dalam mengembangkan Mata Pelajaran TIK Terbarukan.

Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan telah mentahbiskan bahwa mata pelajaran TIK/KKPI telah dihapuskan dari struktur kurikulum nasional. Untuk mengantisipasi gejolak dan meredamkan serta menyalurkan guru TIK/KKPI yang telah ada maka dikeluarkanlah Permendikbud 68 Tahun 2014 dan Permendikbud 45 Tahun 2015 tentang Peran Guru TIK/KKPI dalam Implementasi Kurikulum 2013.

Dalam PP 74 tentang Guru hanya mengenal nomengklatur Guru Kelas, Guru Mata Pelajaran dan Guru Bimbingan Konseling maka permendikbud 68 dan permendikbud 45 bisa dikatakan hanya sementara karena tidak dikenal nomenklatur Guru Bimbingan TIK. Permendikbud tersebut tidak bisa berjalan di hampir semua daerah karena tidak memiliki struktur kurikulum sebab bukan mata pelajaran dan sifatnya yang optional/pilihan kebijakan masing-masing sekolah.

Disisi lain, di banyak negara di dunia, computer science telah menjadi trend dan bahkan telah menjadi basic skill atau salah satu kemampuan dasar dalam persaingan di abad 21. Computer science tidak untuk menciptakan ahli-ahli programer akan tetapi untuk melatih peserta didik dalam berfikir komputasi.

Sudah saatnya TIK dimasukkan kembali sebagai mata pelajaran wajib dari jenjang SD/MI hingga SMA/MA/SMK sebagai salah satu kemampuan dasar bagi peserta didik untuk Indonesia yang lebih baik. Kemandirian di bidang ekonomi, teknologi dan informasi serta demi ketahanan dan keamanan nasional merupakan pertimbangan utamanya.

Salah satu langkah nyata maka dilakukanlah kajian akademis dan menghasilkan Naskah Akademik Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran TIK Terbarukan. Hasil kajian ini memberikan gambaran tentang muatan naskah standar isi dan kurikulum sebagai masukan bagi perumus kebijakan pendidikan lebih lanjut.

AGTIFINDO menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada para pimpinan di DPP AGTIFINDO serta anggota dan para simpatisan,  pakar yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi, Direktorat di lingkungan Kemdikbud, guru TIK, praktisi pendidikan, serta Partner kami KOGTIK, GEG Leader Community serta Intel Educator Visionaries. Berkat bantuan dan kerja sama yang baik dari semua pihak, naskah akademik ini dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.

Naskah Akademik Mata Pelajaran TIK yang terlampir berikut ini, sekaligus sebagai bentuk Uji Publik terhadap Naskah Akademik tersebut. Kami membuka peluang masukan baik tertulis maupun diskusi lebih dalam mengenai Naskah Akademik tersebut termasuk Kompetensi Dasar mata pelajaran TIK Terbarukan.

Demikian Naskah Akademik ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kearah peningkatan mutu pendidikan dan kemandirian serta ketahanan nasional dibidang ekonomi, teknologi dan informasi kami ucapkan terima kasih.

http://bit.ly/UJIPUBLIK_KE2_NASKAHTIK

DPP AGTIFINDO

Kamis, 28 Juli 2016

PROBLEM MAPEL TIK, MUHADJIR EFFENDI GENERASI MENDIKBUD KE-3 ?

Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Anies Baswedan atas segala usaha dan upayanya dalam memajukan pendidikan di Indonesia dan selamat berkarya di bidang yang lainnya. Serta kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Prof. DR. Muhadjir Effendi selamat bertugas dan semoga dapat membawa perubahan dalam dunia pendidikan kearah yang lebih baik serta mampu menyelesaikan PR-PR dunia pendidikan sebelumnya yang masih belum terselesaikan.

Muhadjir Effendy Muhadjir Effendy adalah seorang tokoh pendidikan, yang oleh publik lebih dikenal sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan guru besar bidang sosiologi pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Di samping itu, publik juga mengetahui Muhadjir sebagai seorang pengamat militer dan salah seorang wakil ketua di jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan.

Salah satu PR terbesar bagi Prof. Muhadjir dalam kurun waktu masa bhakti 3 tahun kedepan adalah menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan mata pelajaran TIK demi Ketahanan Nasional dan Kemandirian Bangsa. Sudah saatnya pemerintah mengembalikan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran tentunya dengan segala koreksi yang harus dilakukan dalam konten dan muatan mata pelajarannya. Kini Indonesia telah menandatangani kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan diberlakukan 1 Januari 2016 yang lalu. Indonesia harus memiliki daya saing di segala bidang, termasuk bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Indonesia harus mampu menjadi negara Penghasil Teknologi bukan negara Pemakai Teknologi (konsumen teknologi) bahkan yang lebih “mengerikan” menjadi tujuan atau sasaran pasar teknologi dari negara-negara di ASEAN atau ASIA bahkan Amerika dan Dunia.

Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, Korea, India, Singapura, Thailand, Philipine dan negara-negara lainnya
begitu peduli dengan kemandirian dibidang Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Sains. Mereka telah mengadaptasi Computer Sains sebagi bagian dari STEAM-CS kedalam struktur kurikulum pendidikan mereka dimulai dari jenjang pendidikan dasar (SD). Bagaimana dengan Indonesia ? Di negara kita, mata pelajaran TIK/KKPI turun derajatnya menjadi bentuk Bimbingan/Layanan yang sifatnya OPTIONAL untuk dilaksanakan. Lantas bagaimana bisa mengadaptasi Computer Sains ?

Saat ini Computer Science (TIK terbarukan) sebagai mata pelajaran khusus memang telah menjadi Trend Pendidkan Global di hampir seluruh negara maju di dunia. Kita mendorong pemerintah mengadaptasi Computer Science bukan karena telah menjadi Trend bukan pula untuk menciptakan para programmer handal, akan tapi kita harus SEGERA mengadaptasi Computer Science untuk KEPENTINGAN NASIONAL, kepentingan bangsa dan negara kita untuk bisa menghasilkan SDM yang unggul dan tangguh dalam menghadapi persaingan global dimana Computer Science merupakan salah satu basic skill baru untuk bisa bersaing di era global.

Presiden Amerika, Obama sampai berujar di blog resmi Gedung Putih (Whitehouse) (https://www.whitehouse.gov/blog/2016/01/30/computer-science-all) "Computer Science for All is the President’s bold new initiative to empower all American students from kindergarten through high school to learn computer science and be equipped with the computational thinking skills they need to be creators in the digital economy, not just consumers, and to be active citizens in our technology-driven world. Our economy is rapidly shifting, and both educators and business leaders are increasingly recognizing that computer science (CS) is a “new basic” skill necessary for economic opportunity and social mobility." Obama juga berujar "In the coming years, we should build on that progress, by … offering every student the hands-on computer science and math classes that make them job-ready on day one."

Kita guru-guru TIK dan seluruh anak bangsa berharap besar Prof. Muhadjir bisa lebih bijaksana dan revolusioner dalam menyikapi permasalahan ini. Dan dapat mewujudkan keinginan pemerintahan Jokowi-JK agar Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia-Pasifik serta menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia melalui pendidikan dan pembelajaran TIK terbarukan (TIK sebagai Mata Pelajaran).

Kurikulum 2013 sudah memasuki tahun ke-empat, yang artinya sudah ada satu jenjang generasi muda kita kehilangan "basic skill", bahkan saat ini kita benar-benar memasuki masa-masa Darurat TIK. Kita berharap Prof. Muhadjir dapat mengembalikan dan melanjutkan TIK sebagai mata pelajaran seperti yang pernah dirancang oleh kolega beliau yakni Prof. Malik Fadjar dan Prof. Bambang Sudibyo selaku Mendikbud dimana TIK dilahirkan sekaligus kolega beliau di PP Muhammadiyah. Aamiin.